Awas Dukun !!!

Fenomena Maraknya Perdukunan

Maraknya kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan alternatif cukup kuat, tak Cuma jamu
tradisional dan pijat refleksi, tapi pengobatan lewat makhluk halus seperti jin banyak diminati.

Konglomerat jin, misalnya juga ikut laris, para normal menurut istilah kerennya, dukun menurut istilah
kampungnya, orang pintar / tua menurut istilah jawanya…telah bermunculan dimana-mana.

Sebutan boleh berbeda – beda, namun hakikatnya tetap sama, sama-sama menyimpang dan merusak
aqidah islam yang benar.

Trend sosialisasi dukun

Gelar paranormal akhir-akhir ini semakin mencuat. Di Surabaya misalnya ada gelar paranormal, di
Surakarta ada gelar penyembuhan supra natural, di Yogyakarta ada nuansa supra natural yang ternyata
peminatnya kian membludak, lebih-lebih di dukung pula dengan media visual dan audio visual.

Sebagaimana lazimnya kegiatan tersebut di barengi dengan acara seperti praktek jasa para normal, demo
ilmu gaib, bursa batu mulia dan lain-lain.

Khusus di Yogya, setiap malam masih diadakan acara saresehan yang dihadiri dukun – dukun pakar.
Diantaranya ahli primbon, betaljemur, dukun ahli pengobatan, dukun ahli perkutut, ahli ramal dan dukun
pawang hujan. Para tokoh paranormal laki-laki dan perempuan datang dari berbagai penjuru antara lain,
Jakarta, Surabaya, Malang, Madiun, Pati dan Yogyakarta sendiri.masing-masing membuka praktek sesuai
keahlianya.

Melihat sekilas dari beberapa kegiatan diatas, nampaknya dunia klenik dan perdukunan secara mencolok
telah menjamur di segenap pelosok tanpa malu-malu sekalipun dengan sebutan yang berbeda-
beda. Banyak masyarakat indonesia yang tidak berpegang kepada aqidah yang benar selalu menjadikan
orang pintar, paranormal, dukun, tabib dan sebangsanya menjadi tempat bertanya, tempat mengadu,
tempat mencurahkan segala keluh kesah dan tempat bersandar.

Tidak jarang mereka justru menjadi pihak yang lebih dipercaya petuah-petuahnya dan lebih dipatuhi
titahnya dari pada syari’at islam dan orang tuanya sendiri. Itu mencakup segala persoalan, mulai dari
masalah kesehatan, jodoh, pangkat, rizki…sampai pada masalah santet dan tenung. Orang sakit parah
(dokter katanya sudah angkat tangan) datang kepada dukun, tabib atau yang sebangsanya. Orang ingin
cepat mendapat jodoh, cepat naik pangkat, cepat kaya juga datang ke tempat orang pintar ini. Seolah-
olah mereka adalah orang-orang yang serba bisa dan serba mampu mengatasai masalah. Trik-trik yang
sering mereka gunakan seperti :” inikan hanya ikhtiyar, yang menentukan kan Tuhan “. Adalah trik-trik
jitu yang sangat efisien untuk memperdayakan orang-orang awam muslim yang bodoh.

Realita yang menantang

Itulah salah satu kenyataan realistik yang tidak boleh dipandang dengan sebelah mata. Ini fakta yang
sangat memprihatinkan. Siapapun da’I yang bertanggung jawab, tidak boleh membiarkan umat terjerumus
dalam jurang kemusyrikan.

Realita ini merupakan fenomena yang aneh. Aneh tapi nyata. Orang berakal sehat akan bertanya-tanya,
mengapa di zaman tekhnologi dan komunikasi yang serba canggih ini ternyata klenik, mistik, dan
perdukunan masih lengket, bahkan terkesan semakin lengket dengan kehidupan masyarakat ?

Adalah kabar yang tak bisa ditutup tutupi bahwa tokoh-tokoh, pemuka masyarakat dan para pegawai
tinggi maupun rendahan banyak yang masih menyerahkan persoalan kehidupan kepada paranormal

Yang maju memang tekhnologinya tapi jiwa dan aqidah masyarakat banyak yang masih rapuh dan terbelakang.
Sebab utama dari semua itu adalah karena Tauhidnya kepada Allah masih belum benar, atau bahkan
belum ada sama sekali. Apalagi kecenderungan manusia lebih suka dengan hal-hal yang cepat terwujud
dalam bentuk nyata di dunia dan tidak sabar menghadapi wujud nyata yang akan datang nanti di akhirat.

Mereka amat suka bila sekarang di dunia memperoleh kebaikan duniawi sekalipun harus menempuh cara
yang salah.

Melihat fenomena ini, maka upaya paling utama adalah dengan memahamkan hakikat tauhid, dan
menanamkan rasa tawakkal yang kuat hanya kepada Allah saja.

siapakah dukun itu  ?

Imam Bukhary dalam shahihnya, kitab Ath Thibb telah membuat bab tersendiri berjudul bab al kahanah
yakni bab tentang perdukunan. Dalam keterangannya, Al hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa :” al
kahanah ialah pekerjaan mengaku-aku tahu tentang ilmu ghaib, seperti pemberitaan mengenai apa yang
bakal terjadi di muka bumi dengan penyandaran terhadap sebab, asal usulnya berasal dari kabar jin yang
mencuri dengar perkataan malaikat, kemudian hasil curiannya tersebut disampaikan ke telinga dukun “.
(fathul bary 10/216).

Selanjutnya beliau memberikan penjelasan tentang pengertian dukun, katanya :” dukun ialah sebuah
istilah yang digunakan untuk menyebut seorang tukang ramal, atau orang yang suka menebak
sesuatu dengan menggunakan batu kerikil, atau seorang ahli nujum. Juga di gunakan untuk menyebut
orang yang suka (memberikan jasa) mengatasi persoalan atau memenuhi kebutuhan orang lain (misalnya
pengobatan alternatif lewat kekuatan gaib –pen).

Tanda-tanda dukun

Jika didapati pada seseorang salah satu dari tanda berikut ini, maka dapat disimpulkan bahwa ia adalah
dukun, sekalipun ia memakai sorban atau memakai kerudung, diantara tanda-tandanya yaitu :

1. suka bertanya nama pasien dan nama ibunya.

2. suka mengambil sesuatu yang biasa dipakai pasien, seperti baju, peci, sapu tangan dan lain-lain.

3. terkadang meminta binatang dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih, kadang darahnya
dioleskan kebagian-bagian tubuh yang sakit, atau dibuang ketempat angker.

4. suka menuliskan rajah-rajah.

5. membaca mantera-mantera jimat atau huruf-huruf rajah yang tidak bisa difahami.

6. memberi bungkusan hijib kepada pasien yang berisi huruf-huruf dan angka-angka.

7. kadang menyuruh pasien untuk menjauhi manusia beberapa waktu dengan menyepi dan mengurung diri
dalam sebuah kamar gelap yang disebut oleh orang awam sebagai hujbah.

8. kadang minta pasien untuk tidak menyentuh air selama beberapa hari, biasanya 40 hari.

9. memberi sesuatu kepada pasien untuk ditanam di dalam tanah.

10. memberi lembaran kertas kepada pasien untuk dibakar, lalu asapnya digunakan untuk mengasapi
dirinya.

11. berkomat-kamit dengan bahasa yang tidak difahami.

12. terkadang memberi tahu kepada pasien tentang namanya, kampung halamannya, kesulitan yang
dihadapi sebelum si pasien memberitahu.

13. terkadang menuliskan huruf-huruf  untuk si pasien diatas kertas hijib untuk dimasukkan kedalam
bejana putih berisi air, kemudian meminumnya.
(Asharimul battar hal. 77-78 karya Abdussalam bali).

Perlu diketahui bahwa kesaktian paranormal itu bertingkat tingkat, sesuai dengan ketinggian jin yang
menjadi kawannya. Lebih hebat jinnya maka harus lebih hebat pula kemusyrikan yang
diperbuatnya. Bahkan sampai ada yang menjadikan mushaf al qur’an sebagai alas kaki pada waktu buang
air besar di WC, agar yang datang kepada dirinya adalah setan/jin yang sangat sakti. Bahkan kalau perlu
berkawan dengan iblis sekalian !!

Adalah satu keniscayaan, bahwa antara dukun dengan segala istilah dan tingkatannya, serta iblis yang
meliputi seluruh bala tentaranya saling bahu membahu dalam kemaksiatan dan kesyirikan, memerangi
kebenaran dan menghiasi kemaksiatan dan kesirikan dengan kata-kata indah yang menggiurkan.

Sumber ilmu paranormal / dukun

Imam Bukhary dalam sahihnya meriwayatkan dari Aisyah radliyallahu’anha, beliau berkata :” orang-orang
bertanya kepada Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tentang para dukun. Maka beliau menjawab :” tidak
ada apa-apanya “. Maka para sahabat berkata :” Ya Rosulallah, mereka kadang – kadang bisa
menceritakan sesuatu yang benar kepada kami “. Maka Rosulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :
ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻖ ﻳﺨﻄﻔﻬﺎ ﺍﻟﺠﻨﻲ ﻓﻴﻘﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﺃﺫﻥ ﻭﻟﻴﻪ ﻓﻴﺨﻠﻄﻮﻥ ﻣﻌﻬﺎ ﻣﺌﺔ ﻛﺬﺑﺔ
“Kalimat tersebut berasal dari kebenaranyang dicuri dari seorang jin (dari langit), kemudian dituangkan
kedalam telinga walinya (dukun), maka mereka mencampurkan kalimat yang berisi satu kebenaran
tersebut dengan seratus kebohong an “. (no 5762).

Dalam hadits tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik, diantaranya :

1. bahwa dukun terkadang benar, tapi kebohongannya jauh lebih banyak.

2. bahwa jiwa manusia cenderung lebih mudah tergoda untuk menerima kebatilan. Misalnya, sekali dukun
terbukti benar, maka jiwa akan terpengaruh untuk selalu memegang satu kebenaran yang pernah
terbukti, sementara ia tidak akan menganggap adanya sekian banyak kebohongan yang dilakukan para
dukun.

3. Bahwa apabila sesuatu mengandung kebenaran, maka tidak berarti sesuatu itu seluruhnya benar.

4. Imam Bukhary menyebutkan riwayat lain dari Abu Hurairah, Nabi bersabda :” Apabila Allah
memutuskan perkara dilangit, para malaikat memukulkan sayapnya karena tunduk mendengar
firmanNya, seolah-olah (suara firmanNya) bak gemerincing rantai besi yang terlempar pada batu.
Maka ketika rasa takut telah hilang dari hati malaikat, mereka bertanya :” apa yang telah dikatakan
Rabbmu ? malaikat lain menjawab :” Allah telah mengatakan al haq, sedangkan Dia Maha Tinggi dan
Maha Besar. Maka disaat itu ada setan pencuri kabar yang mendengarkannya. Dan setan-setan itu
seperti ini…sebagian yang satu naik keatas sebagian yang lain. Kemudian setan pencuri kabar
tersebut berhasil mendengarkan kalimat (wahyu dari Allah), lalu ia sampaikan kepada setan yang
berada dibawahnya, setan yang dibawahnya menyampaikan kalimat tersebut kepada setan yang
dibawahnya lagi sampai akhirnya sampai kelidah tukang sihir atau dukun. Terkadang setan tersebut
keburu diterjang bintang api sebelum sempat meyampaikan kalimat tersebut, terkadang mereka
berhasil meyampaikannya kemudian ditambahkan dengan seratus kebohongan bersama dengan kalimat
kebenaran yang dicurinya tadi. Akibatnya orang-orang berkata :” Bukankah  dukun  itu telah berkata kepada kami hari begini dan begini (dengan benar) demikian dan demikian ? walhasil si dukun dipercayai orang karena satu kalimat benar yang didengarnya dari langi t “. (no. 4800).

Hadits diatas menunjukkan bahwa sumber ilmu para dukun berasal dari pengabaran para setan yang mencuri
kabar langit kemudian di campuri dengan seratus kebohongan. Tapi sayang, orang lebih tertipu dengan
satu kebenaran dan melupakan seratus kebohongan yang dikatakan oleh para dukun.

Asal usul mengapa seseorang menjadi dukun

Ada beberapa sumber cara hingga seseorang menjadi dukun, diantaranya :

1 . bersumber dari warisan nenek moyang secara turun temurun.
Ini biasanya karena jin-jin (khadam) yang dimiliki nenek moyang kemudian akrab dan menjadi pengasuh
serta berkuasa atas anak keturunannya.

2 . bersumber dari apa yang mereka sebut kasyaf, ilham, wangsit atau renungan.
Mereka beranggapan, bahwa dari sanalah mereka dapat mengetahui ilmu ghaib atau ilmu laduni. Dengan
dasar itulah mereka mengklaim bahwa dirinya adalah wali yang mendapat karamah, dan makhluk halus
yang berbicara dengan dirinya adalah  malaikat.

Akibatnya orang awam banyak yang datang untuk meminta berkah kepada mereka atau meminta agar
kebutuhannya dapat dipenuhi. Ini jelas merupakan kebohongan yang nyata. Sesungguhnya mereka memang
wali, tapi wali setan , sama sekali bukan wali Allah.

Sedangkan daya linuwih yang mereka sebut sebagai
karamah atau ilmu laduni sebenarnya hanyalah sihir. Dan makhluk halus yang disangka malaikat tidak lain
hanyalah jin dan setan.
Allah Ta’ala menegaskan dalam firmanNya :
ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴْﻦَ ﻟَﻴُﻮْﺣُﻮْﻥَ ﺇِﻟﻰَ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺋِﻬِﻢْ ﻟِﻴُﺠَﺎﺩِﻟُﻮْﻛُﻢْ
“sesungguhnya setan itu membisikkan (wahyunya) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah
kamu… (Al An’am : 121).

Al Hafidz Ibnu Katsir berkata :” Ibnu ‘Abbas berkata :” wahyu itu ada dua macam, wahyu dari Allah dan
wahyu dari setan… wahyu dari setan diberikan kepada kawan-kawannya dengan tujuan menyerang para
pengikut kebenaran “.

3 . bersumber dari benda-benda yang keramat.
Atau istilah sekarang benda-benda mulia seperti batu mulia, kayu bertuah, wesi aji, kulbuntet, merah
delima, qur’an stambul dan lain-lain.
Benda-benda tersebut konon bisa didapatkan dari para nenek moyang atau dari makhluk halus melalui
tapa, semedi, atau beli dari para dukun.

Bahaya Dukun Dan Perdukunan

Islam memandang perdukunan sebagai suatu perbuatan yang berbahaya yang dapat mengancam aqidah
seseorang yang berakibat menjadi batal keislamannya, diantara bahaya dukun dan perdukunan adalah :

1. sihir adalah salah satu pembatal keislaman.

Para ulama memasukkan sihir salah satu pembatal keislaman sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh
Muhammad At Tamimy dalam kitab beliau “ Nawaqidlul islam “ (pembatal-pembatal islam). Berdasarkan
firman Allah Ta’ala :
ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻌَﻠِّﻤﺎَﻥِ ﻣِﻦْ ﺃَﺣَﺪٍ ﺣَﺘﻰَّ ﻳَﻘُﻮْﻻَ ﺇِﻧَّﻤﺎَ ﻧَﺤْﻦُ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﻓَﻼَ ﺗَﻜْﻔُﺮْ
“ Dan keduanya (harut dan marut) tidak mengajari seseorang (ilmu sihir) kecuali setelah mengatakan
kepadanya :” sesungguhnya kami ini hanyalah cobaan (buatmu) maka janganlah kamu menjadi kafir…” (QS
2 : 102).

Ibnu Abbas berkata menafsirkan ayat tersebut :” apabila ada orang yang datang kepada keduanya
(Harut & Marut) untuk belajar sihir, keduanya melarang dengan keras dan berkata :” kami ini hanyalah
cobaan untukmu maka janganlah kamu mejadi kafir, karena keduanya mengajarkan kebaikan dan
keburukan, keimanan dan kekafiran. Dan mengetahui bahwa sihir termasuk kekafiran…”.

2. mengaku-aku tahu yang ghaib adalah termasuk menyekutukan Allah dalam
kerububiyahan-Nya.

Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang mengetahui yang ghaib kecuali Allah, firmanNya :
ْﻞﻗُ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤﺎَﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ
“ Katakanlah : Tidak ada siapapun dilangit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah
“. (QS An Naml : 65).

Ibnu Katsir berkata :” Allah memerintahkan RosulNya untuk menyampaikan bahwa siapapun dari penghuni
langit dan bumi tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah saja “. (3/452).

Allah memberitahu kabar gaib hanya kepada RosulNya saja (QS Al Jinn : 26). Dan membantah keyakinan
bahwa para jin itu mengetahui gaib, firmanNya :” Maka tatkala Kami memenetapkan kematian Sulaiman,
tidak ada yang menunjukkanya kepada mereka kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka saat ia
tersungkur, para jinpun tahu bahwa kalaulah mereka tahu yang gaib tentu mereka tidak akan tetap di
dalam siksa yang menghinakan “. (QS Saba’ : 14).

Menurut Ibnu Abbs, Mujahid, Hasan Al Bashry, Qatadah dan yang lainnya, dalam waktu yang lama
kematian Nabi Sulaiman tidak diketahui hingga rayap memakan tongkatnya dan Nabi Sulaiman jatuh
tersungkur ke bumi. Baru kemudian nyatalah kepada jinn dan manusia, bahwa jin tidak mengetahui
yang gaib. (Tafsir Ibnu Katsir 3/638-639).

Praktek-praktek perdukunan, seperti melihat nasib baik buruk seseorang, mencari barang yang hilang,
mengetahui ihwal orang lain, dan yang semacam itu melalui cara semisal membaca garis tangan
seseorang, menghubungkana nasib dengan huruf, juz, atau ayat-ayat tertentu, melihat dalam mangkuk
dan lain sebagainya merupakan perkara kekafiran dan dosa yang sangat besar sebagaimana yang
disebutkan oleh imam Adz Dzahaby dan Ibnu Hajar Al Haitamy.

3. Dukun menyekutukan Allah dalam keuluhiyahanNya.

Suatu yang biasa bila dukun mendekatkan diri kepada jin dengan berbagai macam bentuk ibadah seperti
menyembelih untuk jin (roh), padahal Rosulullah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah
(HSR Muslim) dan menyembelih adalah ibadah yang hanya diperuntukkan kepada Allah, orang yang
memalingkannya kepada selain Allah telah berbuat syirik besar.

Mereka juga minta perlindungan dan bantuan jinn sedangkan keduanya adalah ibadah yang harus
ditujukan hanya kepada Allah, walhasil seorang dukun semakin kuat ketaatannya kepada jin (khadamnya)
maka semakin senang pula jinn kepadanya, dan keduanya saling menikmati satu sama lainnya.

Hal itu telah Allah kabarkan dalam firmanNya
“ Dan ingatlah hari Allah menghimpun mereka semua, (dan Allah berfirman): hai golongan jin (setan)
sesungguhnya kalian telah banyak menyesatkan manusia. Lalu berkata kawan-kawan mereka dari golongan manusia : Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian
lainnya, dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau telah tentukan bagi kami. Allah
berfirman : Neraka itulah tempat tinggal kalian, kekal selama-lamanya, kecuali Allah menghendaki lain.
Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana dan Maha Tahu “ (QS Al An’am : 128).

4. Mendatangi dukun dan mempercayainya adalah kekafiran terhadap apa yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam.

Dalam hadits sahih Nabi bersabda :
ﻣﻦ ﺃﺗﻰ ﻛﺎﻫﻨﺎ ﻓﺼﺪﻗﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻘﺪ ﻛﻔﺮ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ
“Barang siapa mendatangi dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sunguh ia telah kufur terhadap
apa yang diturunkan kepada Muhamad”. HR Ahmad, sahih).

5. Dukun memperolok agama Allah.

Diantara dukun ada yang menulis al qur’an dengan kotoran manusia, ada pula yang menjadikannya
sebagai alas kaki ketika buang hajat, ini jelas sebuah Perbuatan yang keji dan kemurtadan yang
terang, diantara mereka ada yang mencari kekuatan dengan cara membaca ayat-ayat tertentu sehingga
tidak mempan di bacok, dapat menjatuhkan orang dari jarak jauh.

Hal itupun merupakan perbuatan memperolok ayat-ayat Allah, setan dapat masuk kepada manusia dengan
cara yang bid’ah tersebut. Karena al qur’an tidaklah turun untuk hal itu tapi sebagai peringatan kepada
manusia dan pemberi kabar gembira.

6. sihir adalah perkara yang dapat membinasakan pelakunya di dunia dan akhirat.

Nabi bersabda :” jauhilah tujuh perkara yang membinasakan ; menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa
yang diharamkan, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan jihad, dan menuduh wanita
muslimah yang menjaga kehormatannya telah berbuat zina “. (Muttafaq ‘alaih).

7. Sihir menzolimi orang lain.

Sering kali dukun menyakiti orang lain dengan santet, pelet, dan sejenisnya, mengguna-guna orang
sehingga hidupnya hancur, jelas ini adalah kezaliman yang tidak akan Allah biarkan.

Wallahu a’lam.

http://cintasunnah.com/awas-dukun/

Posted in aqidah, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Ceramah Kajian Islam

Download ceramah :

– Kiat-kiat Menangkal Teroris

– Membedah Akar Teroris

– Pengeboman dan Pengrusakan Bukan Jihad!

– Dan lain-lain

[Klik-Disini]

http://salafiyunpad.wordpress.com/tag/teroris/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Apakah Celana Cingkrang, Berjenggot, Cadaran Ciri Terorisme?

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Ustadz, masih hangat
kabar tentang berbagai aksi teror bom di
negeri kita. Mohon penjelasannya:

1. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam
mengenai hal tersebut?

2. Apakah pelaku bom bunuh diri bisa
dikatakan mati syahid atau malah bunuh
diri?

3. Kebanyakan pelaku teror berpenampilan
sunnah, lantas apa hukumnya seorang muslim
memanggil saudaranya yang menegakkan sunnah
dengan sebutan “teroris”?

Mohon penjelasannya. Barakallahu fik.

Jawaban:

Bismillah wash-shalatu was salamu ‘ala rasulillah ….

1. Sesungguhnya, Islam adalah agama yang
mengajarkan kedamaian dan pelestarian kehidupan.
Karena itu, Islam melarang menusia untuk saling
membunuh dan berperang tanpa alasan yang
dibenarkan agama. Bahkan, Allah menyebut orang yang
berani membunuh orang lain tanpa alasan yang
dibenarkan sebagai bentuk pembunuhan terhadap
semua manusia. Allah berfirman,

ﺃَﻧَّﻪُ ﻣَﻦ ﻗَﺘَﻞَ ﻧَﻔْﺴﺎً ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻧَﻔْﺲٍ ﺃَﻭْ ﻓَﺴَﺎﺩٍ ﻓِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﻓَﻜَﺄَﻧَّﻤَﺎ ﻗَﺘَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺟَﻤِﻴﻌﺎً

“Bahwasanya barang siapa yang membunuh jiwa, bukan
karena qishash atau berbuat kerusakan di muka bumi,
seolah-olah dia membunuh seluruh manusia. ” (Q.S. Al-
Maidah:32)

Di antara bentuk pembunuhan yang terlarang adalah
membunuh orang kafir yang mengikat perjanjian damai
dengan kaum muslimin, tanpa alasan yang dibenarkan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Barang
siapa yang membunuh orang kafir mu’ahad maka dia
tidak akan mencium bau surga.” (H.R. Bukhari dan
Muslim)

Yang dimaksud kafir “mu’ahad ” adalah ‘orang kafir
yang mengikat perjanjian damai dengan kaum
muslimin’. Karena itu, terorisme adalah tindakan yang
bertolak belakang dengan Alquran dan Sunah.

2. Orang yang melakukan bom bunuh diri tidak bisa
dikatakan sebagai orang yang mati syahid, karena
batasan mati syahid di medan jihad adalah mati karena
dibunuh oleh musuhnya, orang kafir.

Di samping itu, dalam sejarah perjuangan Islam,
tidak tercatat ada shahabat yang melakukan
bunuh diri untuk menghancurkan musuh.

Bahkan, yang ada adalah kisah orang yang
bunuh diri di medan perang, yang divonis masuk
neraka oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat
Bukhari.

3. Bagian ini adalah pertanyaan yang sangat menarik,
mengingat banyaknya orang awam yang belum
memahaminya. Perlu digaris-bawahi bahwa
pembahasan tentang haramnya terorisme sama sekali
tidak ada hubungannya dengan pakaian atau ciri fisik.

Pembahasan tentang pakaian dan ciri fisik yang sesuai
sunah masuk dalam lingkup kajian masalah adab dan
sunah. Sementara, kajian tentang terorisme masuk
dalam lingkup masalah akidah dan manhaj. Karena itu,
untuk memberikan penilaian yang objektif, kita harus
membedakan dua hal ini.

Terkait dengan aksi terorisme, kebetulan, mereka yang
menjadi pelaku aksi ini memiliki ciri khas pakaian
yang mirip dengan kelompok lainnya. Umumnya,
mereka berjenggot, celana di atas mata kaki, istri-
istrinya bercadar atau memakai jilbab besar, suka
memakai baju koko atau yang mirip baju koko, jubah,
dan seterusnya.

Beberapa ciri fisik ini, tidak kita pungkiri, merupakan
bagian dari sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Tentang dalil adanya ciri semacam ini bisa dilihat di
kitab Riyadhush Shalihin karya Imam An-Nawawi,
Uqudul Lijain karya Imam Nawawi Al-Bantani Asy-
Syafi’i, dan beberapa kitab adab lainnya. Dengan
demikian, upaya sebagian kaum muslimin untuk
menyesuaikan diri dengan beberapa sunah ini,
seharusnya mendapatkan apresiasi yang baik, karena
ini adalah bagian dari usaha mereka untuk meniru
sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang saat ini
banyak ditinggalkan masyarakat Islam, sehingga
dianggap asing.

Dengan demikian, tidak tepat jika menilai bahwa orang
yang memiliki ciri ini sama dengan teroris.
Menjustifikasi bahwa semua orang yang berjenggot
dengan celana cingkrang sebagai teroris merupakan
sikap yang tidak objektif. Tuduhan semacam itu bisa
kita katakan sebagai tindakan kezaliman, karena
menuduh orang lain, sementara pihak tertuduh tidak
berhak mendapatkan tuduhan tersebut. Allah
berfirman,

ﻭَﻻَ ﻳَﺠْﺮِﻣَﻨَّﻜُﻢْ ﺷَﻨَﺂﻥُ ﻗَﻮْﻡٍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻻَّ ﺗَﻌْﺪِﻟُﻮﺍْ

“Jangan sampai perbuatan zalim yang dilakukan
kelompok tertentu membuat kalian menjadi tidak
berlaku adil ….” (Q.S. Al-Maidah:8)

Di ayat ini, Allah melarang kita bersikap zalim
disebabkan oleh kejahatan yang dilakukan orang lain.
Bom bunuh diri pelakunya adalah para teroris, bukan
setiap orang yang bercelana cingkrang, meskipun
cirinya sama.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina
Konsultasi Syariah).

Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

http://www.konsultasisyariah.com/apakah-celana-cingkrang-berjenggot-cadaran-ciri-terorisme/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Teroris Bukan Mujahid dan Bukan Pula Mujtahid! | Muslim.Or.Id

Kaum muslimin, semoga Allah membimbing kita di
atas jalan-Nya yang lurus. Di hari-hari ini kita
bisa melihat dengan mata kepala kita, bagaimana
sejarah perjuangan umat Islam kembali dinodai
oleh ulah oknum-oknum tidak bertanggung jawab
yang mengatasnamakan Islam dan jihad. Dengan
seenaknya mereka melakukan tindak
pengeboman, penghancuran, serta berupaya
untuk mengacaukan ketentraman negeri kaum
muslimin dengan kedok jihad dan ijtihad. Padahal
Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari apa yang
mereka lakukan.

Alangkah cocok sebuah bait syair yang
menggambarkan keadaan orang-orang seperti
mereka,
Semua orang mengaku punya hubungan cinta
dengan Laila
Namun, malang. Ternyata Laila tidak
mengiyakan omongan mereka

Begitulah kurang lebih keadaan mereka. Dengan
tanpa malu-malu, mereka mengaku sebagai
barisan mujahidin dan menobatkan diri sebagai
mujtahid. Bagaimana mungkin orang yang gemar
menebar kekacauan dan kerusakan di atas muka
bumi dengan membunuh nyawa tanpa hak layak
untuk disebut sebagai mujahid, apalagi
dinobatkan sebagai mujtahid? Allahul musta’an!
Di manakah akal mereka?

Orang-orang yang salah sangka

Saudaraku sekalian, marilah kita renungkan
barang sejenak fenomena yang menyayat hati
ini. Para pemuda yang jahil/tidak mengerti
syari’at Islam dengan mudahnya ditipu oleh
mujahid dan mujtahid gadungan. Sehingga
akhirnya nyawa mereka sendiri pun mereka
relakan -dengan aksi bom bunuh diri- untuk
memperjuangkan apa yang mereka kira sebagai
sebuah jihad dan pengorbanan untuk agama.

Aduhai, alangkah malang nasib mereka. Tidakkah
mereka ingat akan sebuah firman Allah yang
menceritakan keadaan orang-orang seperti
mereka, yang bersusah payah melakukan suatu
usaha dan menyangka telah mempersembahkan
sesuatu yang terbaik bagi agamanya. Padahal
kenyataannya mereka adalah orang yang paling
merugi amalnya. Allah ta’ala berfirman,

ﻗُﻞْ ﻫَﻞْ ﻧُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺄَﺧْﺴَﺮِﻳﻦَ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟًﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺿَﻞَّ ﺳَﻌْﻴُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ
ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺴَﺒُﻮﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻳُﺤْﺴِﻨُﻮﻥَ ﺻُﻨْﻌًﺎ

“Katakanlah: Maukah aku kabarkan kepada kalian
tentang orang-orang yang paling merugi
amalnya. Yaitu orang-orang yang sia-sia
usahanya di dunia sementara mereka mengira
telah melakukan sesuatu kebaikan dengan
sebaik-baiknya.” (Qs. al-Kahfi: 103-104)

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat
dari Ali bin Abi Thalib, ad-Dhahhak dan para
ulama lainnya bahwa golongan yang termasuk
dalam cakupan ayat ini adalah kaum Haruriyah/
Khawarij. Meskipun ayat ini juga mencakup
celaan bagi Yahudi dan Nasrani. Sehingga Ibnu
Katsir menyimpulkan, “Sesungguhnya ayat ini
berlaku umum bagi siapa saja yang beribadah
kepada Allah namun tidak di atas jalan yang
diridhai Allah. Dia menyangka bahwa dia berada
di pihak yang benar dan amalnya akan diterima.
Padahal, sebenarnya dia adalah orang yang
bersalah dan amalnya tertolak.” ( Tafsir al-
Qur’an al-’Azhim [5/151-152])

Haram bicara agama tanpa ilmu!

Saudaraku sekalian, sesungguhnya kemuliaan
Islam ini akan ternoda tatkala orang yang bukan
ahlinya berbicara tentang sesuatu yang
menyangkut ajaran agama. Tidakkah kita ingat
firman Allah ta’ala,

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻘْﻒُ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ
ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْﺌُﻮﻟًﺎ

“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu
tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua
pasti akan dimintai
pertanggungjawabannya.” (Qs. al-Isra’: 36)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺳَﻴَﺄْﺗِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺳَﻨَﻮَﺍﺕٌ ﺧَﺪَّﺍﻋَﺎﺕُ ﻳُﺼَﺪَّﻕُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﺫِﺏُ ﻭَﻳُﻜَﺬَّﺏُ
ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻕُ ﻭَﻳُﺆْﺗَﻤَﻦُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﻟْﺨَﺎﺋِﻦُ ﻭَﻳُﺨَﻮَّﻥُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﻟْﺄَﻣِﻴﻦُ ﻭَﻳَﻨْﻄِﻖُ ﻓِﻴﻬَﺎ
ﺍﻟﺮُّﻭَﻳْﺒِﻀَﺔُ ﻗِﻴﻞَ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟﺮُّﻭَﻳْﺒِﻀَﺔُ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺍﻟﺘَّﺎﻓِﻪُ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟْﻌَﺎﻣَّﺔِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang
penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta
dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah
didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan
orang yang amanah justru dianggap sebagai
pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat
bicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud
Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh
yang turut campur dalam urusan masyarakat
luas.” (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah
radhiyallahu’anhu , disahihkan al-Albani dalam
as-Shahihah [1887] as-Syamilah)

Ruwaibidhah bukanlah mujtahid. Mujtahid
berbicara dengan ilmu, sedangkan Ruwaibidhah
berbicara dan berfatwa dengan kejahilan/
kebodohan mereka. Perhatikanlah sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam ,

ﺇِﺫَﺍ ﺣَﻜَﻢَ ﺍﻟْﺤَﺎﻛِﻢُ ﻓَﺎﺟْﺘَﻬَﺪَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺻَﺎﺏَ ﻓَﻠَﻪُ ﺃَﺟْﺮَﺍﻥِ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺣَﻜَﻢَ ﻓَﺎﺟْﺘَﻬَﺪَ ﺛُﻢَّ
ﺃَﺧْﻄَﺄَ ﻓَﻠَﻪُ ﺃَﺟْﺮٌ

“Apabila seorang hakim hendak memutuskan
sesuatu lalu berijtihad kemudian benar maka dia
memperoleh dua pahala. Adapun apabila dia akan
memutuskan sesuatu lalu berijtihad kemudian
tersalah maka dia akan memperoleh satu
pahala.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-I’tisham
bil Kitab wa Sunnah dari Amr bin al-’Ash
radhiyallahu’anhu )

al-Hafizh Ibnu Hajar menukil keterangan dari
Ibnul Mundzir, beliau mengatakan, “Seorang
hakim yang tersalah itu mendapat pahala
sesungguhnya hanyalah apabila dia adalah
seorang alim/yang berilmu tentang ijtihad
kemudian dia pun berijtihad. Adapun apabila dia
bukanlah seorang yang alim/berilmu maka dia
tidak mendapatkan pahala.” Bahkan apabila dia
nekad memutuskan dan mengeluarkan fatwa
tanpa ilmu maka dia berdosa, sebagaimana
dijelaskan oleh Ibnu Hajar sebelum menukil
ucapan Ibnul Mundzir di atas. Beliau juga
menukil keterangan dari al-Khatthabi bahwa
seorang yang berijtihad akan diberi pahala jika
dirinya memang telah memiliki alat-alat/ilmu
untuk berijtihad. Orang seperti itulah yang
apabila tersalah masih bisa diberi toleransi (lihat
Fath al-Bari [13/364])

Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani
mengatakan, “Ijtihad tidak boleh dilakukan
kecuali oleh seorang yang faqih/ahli hukum
agama yang mengetahui dalil-dalil dan tata cara
menarik kesimpulan hukum darinya, sebab
melakukan penelitian terhadap dalil-dalil tidak
mungkin dilakukan -dengan benar- kecuali oleh
orang yang memang ahli di dalam
bidangnya.” ( Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis
Sunnah wal Jama’ah , hal. 470).

Terlebih lagi, untuk berijtihad ada syarat-
syaratnya yang tidak sembarang orang bisa
memenuhinya. Di antaranya adalah: [1]
Memahami seluk beluk sumber hukum yaitu al-
Kitab, as-Sunnah, Ijma’, Qiyas, dsb. [2]
Memahami bahasa Arab [3] Mengetahui maksud
dari ungkapan umum dan khusus dalam bahasa
Arab, muthlaq dan muqayyad. Bisa membedakan
antara nash, zhahir, dan mu’awwal. Mujmal dan
mubayyan. Manthuq dan mafhum, dsb [4] Dia
harus mengerahkan segenap kemampuannya
dalam mengambil kesimpulan hukum, tidak boleh
setengah-setengah. Itu adalah sebagian syarat
yang terkait dengan orangnya. Masih ada lagi
syarat lain yang terkait dengan perkara yang
menjadi objek ijtihad, di antaranya: bukan dalam
perkara yang sudah ada dalil tegasnya, dalil
yang ada dalam perkara tersebut memang masih
membuka ruang -tidak dipaksakan- yang
memungkinkan adanya perbedaan penafsiran,
dsb (lebih lengkap baca di Ma’alim Ushul Fiqh
‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah , hal. 479-484).

Berbuat dosa kok mengharap pahala?

Di manakah letak ilmu pada diri orang yang
melakukan bom bunuh diri dan menyuruh orang
lain untuk bunuh diri? Padahal Allah ta’ala
berfirman,

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻘْﺘُﻠُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﺑِﻜُﻢْ ﺭَﺣِﻴﻤًﺎ

“Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri,
sesungguhnya Allah Maha menyayangi
kalian.” (Qs. an-Nisaa’: 29)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
bersabda,

ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺘَﻞَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻋُﺬِّﺏَ ﺑِﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ

“Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri
dengan suatu alat/senjata maka dia akan disiksa
dengannya kelak pada hari kiamat.” (HR.
Bukhari dan Muslim dari Tsabit bin ad-Dhahhak
radhiyallahu’anhu , ini lafaz Muslim)

Ketika mengomentari ulah sebagian orang yang
nekad melakukan bom bunuh diri dengan alasan
untuk menghancurkan musuh, maka Syaikh Ibnu
Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Hanya saja
kami katakan, orang-orang itu yang kami
dengar melakukan tindakan tersebut, kami
berharap mereka tidak disiksa seperti itu sebab
mereka adalah orang-orang yang jahil/bodoh
dan melakukan penafsiran yang keliru. Akan
tetapi, tetap saja mereka tidak memperoleh
pahala, dan mereka bukan orang-orang yang
syahid dikarenakan mereka telah melakukan
sesuatu yang tidak diijinkan oleh Allah, akan
tetapi mereka telah melakukan apa yang
dilarang oleh-Nya.” (Syarh Riyadh as-Shalihin ,
dinukil dari al-Kaba’ir ma’a Syarh Ibnu
Utsaimin , hal. 109)

Di manakah letak ilmu pada diri orang yang
membunuh nyawa orang kafir tanpa hak?
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

ﻣَﻦْ ﻗَﺘَﻞَ ﻣُﻌَﺎﻫَﺪًﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﺮِﺡْ ﺭَﺍﺋِﺤَﺔَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﺇِﻥَّ ﺭِﻳﺤَﻬَﺎ ﺗُﻮﺟَﺪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺴِﻴﺮَﺓِ
ﺃَﺭْﺑَﻌِﻴﻦَ ﻋَﺎﻣًﺎ

“Barang siapa yang membunuh seorang kafir
yang terikat perjanjian -dengan kaum muslimin
atau pemerintahnya- maka dia tidak akan
mencium bau surga. Sesungguhnya baunya itu
akan tercium dari jarak perjalanan empat puluh
tahun.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Jizyah dan
Kitab ad-Diyat dari Abdullah bin Amr
radhiyallahu’anhuma , lafaz ini ada di dalam Kitab
al-Jizyah )

al-Munawi menjelaskan bahwa ancaman yang
disebutkan di dalam hadits ini merupakan dalil
bagi para ulama semacam adz-Dzahabi dan yang
lainnya untuk menegaskan bahwa perbuatan itu –
membunuh kafir mu’ahad- termasuk kategori
dosa besar. Meskipun seorang muslim tidak mesti
dihukum bunuh sebagai akibat dari kejahatan itu
( Faidh al-Qadir [6/251] as-Syamilah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺃُﻣِﺮْﺕُ ﺃَﻥْ ﺃُﻗَﺎﺗِﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺣﺘَّﻰ ﻳَﺸْﻬَﺪُﻭﺍ ﺃﻥْ ﻻ ﺇﻟَﻪَ ﺇﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪﺍً
ﺭﺳﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻭﻳُﻘﻴﻤﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ، ﻭﻳُﺆْﺗُﻮﺍ ﺍﻟﺰَّﻛﺎﺓَ ، ﻓﺈﺫﺍ ﻓَﻌَﻠﻮﺍ ﺫﻟﻚَ ،
ﻋَﺼَﻤُﻮﺍ ﻣِﻨِّﻲ ﺩِﻣَﺎﺀﻫُﻢ ﻭﺃَﻣﻮﺍﻟَﻬُﻢ، ﺇﻻَّ ﺑِﺤَﻖِّ ﺍﻹﺳﻼﻡِ ، ﻭﺣِﺴَﺎﺑُﻬُﻢ ﻋﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌﺎﻟَﻰ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia
sampai mereka mau bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang hak melainkan Allah dan
Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan
shalat, membayarkan zakat, apabila mereka
telah melakukannya maka terjagalah darah dan
harta mereka dariku kecuali dengan alasan haq
menurut Islam, dan hisab mereka terserah pada
Allah ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu
Umar radhiyallahu’anhuma )

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh
hafizhahullah menerangkan bahwa di dalam kata-
kata “apabila mereka telah melakukannya maka
terjagalah darah dan harta mereka dariku”
terdapat dalil yang menunjukkan bahwa orang
kafir itu hartanya boleh diambil dan darahnya
boleh ditumpahkan. Dan orang yang dimaksud di
dalam hadits ini adalah kafir harbi, yaitu orang
kafir yang sedang terlibat peperangan dengan
pasukan kaum muslimin. Oleh sebab itu misalnya
jika anda mengambil harta seorang kafir harbi
maka tidak ada hukuman bagi anda. Adapun
orang kafir mu’ahad, kafir musta’man dan kafir
dzimmi -ketiganya bukan kafir harbi,pen- maka
mereka semua tidak boleh diperangi (lihat
Syarah Arba’in , hal. 63)

Berjihadlah!

Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya seorang
mujahid sejati adalah orang yang menundukkan
hawa nafsunya untuk melakukan ketaatan
kepada Allah -termasuk di dalamnya memerangi
orang kafir dengan cara yang benar-, bukan
dengan melakukan perbuatan dosa dan
pelanggaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,

ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫِﺪُ ﻣَﻦْ ﺟَﺎﻫَﺪَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻓِﻲ ﻃَﺎﻋَﺔِ ﺍﻟﻠَّﻪِ

“Orang yang berjihad adalah orang yang
berjuang menundukkan dirinya dalam ketaatan
kepada Allah.” (HR. Ahmad dari Fadhalah bin
Ubaid radhiyallahu’anhu dinilai sahih oleh al-
Albani dalam as-Shahihah [549] as-Syamilah)

Tanyakanlah kepada dirimu: Bukankah Nabi
melarang membunuh orang kafir tanpa hak?
Bukankah kita wajib taat kepada beliau?
Bukankah ketaatan kepada Nabi itu pada
hakikatnya merupakan ketaatan kepada Allah?
Lalu dengan alasan apa kita menghalalkan darah
yang diharamkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam untuk ditumpahkan? Apakah kita merasa
berada di atas agama yang lebih baik dan lebih
hebat daripada agama yang diajarkan oleh
Rasulullah? Jawablah wahai orang-orang yang
masih memiliki akal dan hati nurani!

Sejak kapan membunuh orang kafir tanpa hak
disebut jihad? Sejak kapan meledakkan gedung-
gedung umum yang menimbulkan jatuhnya
korban tanpa pandang bulu disebut sebagai
jihad? Tanyakanlah kepada mereka yang sok
menjadi mujtahid dan membolehkan ‘jihad’ ala
teroris semacam itu: ijtihad ulama manakah yang
membolehkan seorang muslim membunuh dirinya
dan meledakkan bangunan umum yang berakibat
melayangnya nyawa-nyawa tak bersalah? Atau
barangkali yang mereka sebut sebagai ulama
mujtahid itu memang bukan ulama alias
Ruwaibidhah? Waspadalah -wahai para pemuda-
dari tipu daya, silat lidah, dan penampilan
mereka!

Ingatlah, sesungguhnya jihad yang diridhai Allah
adalah jihad di jalan-Nya yang lurus, bukan di
jalan yang menyimpang. Allah ta’ala berfirman,

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺟَﺎﻫَﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻨَﺎ ﻟَﻨَﻬْﺪِﻳَﻨَّﻬُﻢْ ﺳُﺒُﻠَﻨَﺎ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻤَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ

“Orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang/
berjihad di jalan Kami niscaya Kami akan
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang
berbuat baik/ihsan.” (Qs. al-’Ankabut: 69)

al-Baghawi menyebutkan riwayat dari Ibnu
Abbas radhiyallahu’anhuma , beliau berkata
tentang tafsiran ayat ini, “Yaitu orang-orang
yang berjuang dengan sungguh-sungguh di dalam
ketaatan kepada Kami niscaya Kami tunjukkan
kepada mereka jalan-jalan untuk meraih pahala
dari Kami.” ( Ma’alim at-Tanzil [6/256] as-
Syamilah)

Maka marilah kita berjihad di atas ketaatan,
bukan di atas kedurhakaan!

Hati-hatilah dari al-Qa’adiyah masa kini!

al-Qa’adiyah merupakan salah saktu sekte
Khawarij yang memiliki ideologi Khawarij, hanya
saja mereka tidak memilih sikap memberontak.
Meskipun demikian, mereka menganggap
pemberontakan sebagai perkara yang baik, tidak
boleh diingkari, bahkan berpahala! Dengan kata
lain -dalam bahasa sekarang- mereka menilai
bahwa pemberontakan yang dilakukan oleh
rekan-rekan mereka -dengan menimbulkan
kekacauan dan mengancam penguasa; bom bunuh
diri dan semisalnya- bukan perkara yang salah,
alias hasil ijtihad yang harus dihargai dan layak
untuk diberi pahala [?!] Sampai-sampai salah
seorang tokoh mereka di negeri ini berkata,
“Menurut saya mereka adalah mujahid. Dan apa
yang mereka lakukan itu merupakan hasil ijtihad
mereka. Walaupun saya tidak sependapat dengan
-hasil ijtihad- mereka.” Inilah ucapan
gembongnya Khawarij di negeri ini!

Ketika menjelaskan biografi ringkas Imran bin
Hitthan -salah seorang perawi hadits yang
terseret paham Khawarij- Ibnu Hajar berkata,
“al-Qa’adiyah adalah salah satu sekte dari
kelompok Khawarij. Mereka berpendapat
sebagaimana pendapat Khawarij, namun mereka
tidak ikut melakukan pemberontakan. Akan
tetapi mereka menghias-hiasi/menilai baik
perbuatan itu.” ( Hadyu as-Sari , hal. 577).

Sebelumnya, Ibnu Hajar juga menukil ucapan
Abul Abbas al-Mubarrid, “Imran bin Hitthan
adalah gembong kelompok al-Qa’adiyah dari
aliran Shafariyah. Dia adalah khathib/orator dan
penya’ir di kalangan mereka.” ( Hadyu as-Sari ,
hal. 577). Imran bin Hitthan inilah yang meratapi
kematian Abdurrahman bin Muljam -sang
pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu –
dengan untaian bait-bait sya’irnya yang heroik.
Dikisahkan bahwa pada akhir hidupnya dia
kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan
paham Khawarij, sebagaimana yang diriwayatkan
oleh Abu Zakariya al-Mushili di dalam Tarikh al-
Mushil (lihat Hadyu as-Sari , hal. 577,578, lihat
juga Tahdzib at-Tahdzib [8/128] as-Syamilah)

Ibnu Hajar mengatakan,

ﻭﺍﻟﻘَﻌَﺪﻳﺔ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳُﺰَﻳِّﻨﻮﻥ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝَ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﻭﻻ ﻳﺒﺎﺷِﺮﻭﻥ ﺫﻟﻚ

“al-Qa’adiyah adalah orang-orang yang
menghias-hiasi perbuatan pemberontakan kepada
para pemimpin -umat Islam- dan mereka tidak
ikut terjun langsung dalam tindakan
tersebut.” ( Hadyu as-Sari , hal. 614 cet Dar al-
Hadits)

as-Syahrastani mengatakan,

ﻛﻞ ﻣﻦ ﺧﺮﺝ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﻖ ﺍﻟﺬﻱ ﺍﺗﻔﻘﺖ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻋﻠﻴﻪ ﻳُﺴﻤﻰ
ﺧﺎﺭﺟﻴﺎً ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻟﺮﺍﺷﺪﻳﻦ
ﺃﻭ ﻛﺎﻥ ﺑﻌﺪﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﺑﺈﺣﺴﺎﻥ ﻭﺍﻷﺋﻤﺔ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺯﻣﺎﻥ

“Setiap orang yang memberontak kepada
pemimpin yang sah yang disepakati oleh rakyat
sebagai pemimpin mereka maka dia disebut
sebagai Khariji (kata tunggal dari Khawarij).
Sama saja apakah dia melakukan pemberontakan
itu di masa sahabat masih hidup kepada para
pemimpin yang lurus atau setelah masa mereka
yaitu kepada para tabi’in yang senantiasa
mengikuti pendahulu mereka dengan baik serta
para pemimpin umat di sepanjang masa.” ( al-
Milal wa an-Nihal [1/28] as-Syamilah)

Salah satu pemikiran Khawarij yang berkembang
saat ini -terutama di kalangan sebagian pemuda
Islam yang bersemangat tapi tanpa ilmu- adalah
pendapat yang membolehkan -tidak harus-
untuk memberontak kepada pemimpin muslim
yang zalim (lihat mukadimah kitab al-Khawarij
wal Fikru al-Mutajjaddid karya Syaikh Abdul
Muhsin bin Nashir al-Ubaikan, hal. 6).

Sebagaimana pula keterangan semacam ini
pernah kami dengar dari perkataan Syaikh Abdul
Malik Ramadhani dalam sebuah rekaman video
ceramah beliau ketika memberikan pelajaran
kitab asy-Syari’ah karya Imam al-Ajurri.
Inilah sekelumit nasihat dan pelajaran bagi kita
semua. Semoga masih ada telinga yang mau
mendengar dan hati yang masih mau menerima
kebenaran. Sebagian sumber tulisan ini kami
ketahui dari buku Madarik an-Nazhar fi as-
Siyasah karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani,
serta buku Mereka adalah Teroris susunan Ust.
Luqman Ba’abduh, semoga Allah menerima amal
kita dan mereka, serta mengampuni dosa kita
dan mereka.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar
itu benar, dan karuniakanlah kepada kami
ketaatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah
kepada kami yang salah itu salah, dan
karuniakanlah kepada kami keteguhan sikap
untuk menjauhinya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina
Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Yogyakarta, 17 Sya’ban 1430 H

***
Penulis: Ustadz Ari Wahyudi
Artikel http://www.muslim.or.id

http://muslim.or.id/manhaj/teroris-bukan-mujahid-dan-mujtahid.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mari Mengenal Manhaj Salaf — Muslim.Or.Id

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membangkitkan
para sahabat sebagai pendamping dan pembela dakwah beliau. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah
kepada Muhammad, keluarga dan para pengikutnya yang setia hingga akhir masa. Amma ba’du . Kaum
muslimin sekalian, semoga Allah melimpahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita. Seringkali masyarakat
dibingungkan oleh sebuah istilah yang belum mereka mengerti dengan baik. Nah, dibangun di atas kebingungan
inilah kemudian muncul berbagai persangkaan dan bahkan tuduhan bukan-bukan kepada sesama saudara
seiman. Perlu kita ingat bersama bahwa cek dan ricek merupakan bagian dari keindahan ajaran Islam yang
harus kita jaga. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman jika orang fasik
datang kepada kalian membawa berita maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al Hujuraat: 6) (Silakan baca
penjelasan ayat ini di dalam rubrik Tafsir Majalah As Sunnah Edisi 01/Thn X/1427 H/2006 M, hal. 11-15).
Saudara-saudara sekalian, di hadapan kita ada sebuah istilah yang cukup populer namun sering disalahpahami
oleh sebagian orang. Istilah yang dimaksud adalah kata salaf atau salafi dan salafiyah. Menimbang pentingnya
hakikat permasalahan ini untuk diungkap dan dijelaskan maka kami memohon pertolongan kepada Allah ta’ala
untuk turut berpartisipasi mengurai “benang kusut” ini. Semoga Allah menjadikan amal-amal kita ikhlas untuk
mengharapkan wajah-Nya semata. Wallahu waliyyut taufiiq.
Syaikh Salim Al Hilaly -salah satu murid senior Ahli Hadits abad ini Syaikh Al Albani- hafizhahullah telah
membeberkan perkara ini dengan gamblang dalam buku beliau Limadza Ikhtartul Manhaj Salafy yang sudah
diterjemahkan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. hafizhahullah dengan judul Mengapa Memilih Manhaj Salaf
penerbit Pustaka Imam Bukhari, Solo. Kami sangat menganjurkan kepada para pembaca sekalian untuk
memiliki atau membaca langsung buku tersebut. Orang bilang, “Tak kenal maka tak sayang…”
Pemahaman yang Benar dan Niat Baik
Pada awal risalah ini kami ingin menukilkan sebuah perkataan berharga dari Imam Ibnul Qayyim demi
mengingatkan kaum muslimin sekalian agar menjaga diri dari dua bahaya besar, yaitu kesalah pahaman dan
niat yang buruk. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pemahaman yang benar dan niat yang baik
adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang
hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh
kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi
keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang
dimurkai ( al maghdhuubi ‘alaihim ) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia
selamat dari jebakan jalan orang sesat ( adh dhaalliin ) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga
dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat ( an’amta ‘alaihim ) yaitu
orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut shirathal
mustaqim …” ( I’laamul Muwaqqi’iin , 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf , hal. 44).
Oleh sebab itu di sini kami katakan: Hendaknya kita semua berusaha seoptimal mungkin untuk memahami
persoalan yang kita hadapi ini sebaik-baiknya dengan dilandasi niat yang baik yaitu untuk mencari kebenaran
dan kemudian mengikutinya. Hal ini sangatlah penting. Karena tidak sedikit kita saksikan orang-orang yang
memiliki niat yang baik namun karena kurang bisa mencermati hakikat suatu permasalahan akhirnya dia
terjatuh dalam kekeliruan, sungguh betapa banyak orang semacam ini… Di sisi lain adapula orang-orang yang
apabila kita lihat dari sisi taraf pendidikan atau gelar akademis yang sudah didapatkannya (meskipun itu
bukan menjadi parameter pemahaman) adalah termasuk golongan orang yang ‘mengerti’, namun amat
disayangkan ilmu yang diperolehnya tidak melahirkan ketundukan terhadap manhaj salaf yang haq ini.
Sehingga kita temui adanya sebagian da’i yang lebih memilih manhaj/metode selain manhaj salaf, padahal ia
termasuk lulusan Universitas Islam Madinah Saudi Arabia (Ini sekaligus mengingatkan bahwa tempat sekolah
seseorang bukanlah ukuran kebenaran). Bahkan ada di antara mereka yang berhasil mendapatkan predikat
cum laude di sana, namun tatkala pulang ke Indonesia, kembalilah dia ke pangkuan hizbiyyah (kepartaian) dan
larut dalam kancah politik ala Yahudi, ikut berebut kursi dan memperbanyak jumlah acungan jari… Wallahul
musta’aan . Semoga Allah mengembalikan mereka kepada kebenaran.
Marilah kita ingat sebuah ayat yang sangat indah yang akan menunjukkan jalan untuk memecahkan segala
macam masalah. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul serta Ulul amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu urusan maka
kembalikanlah pemecahannya kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari
akhir. Yang demikian itu pasti lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya.” (QS. An Nisaa’: 59)
Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksud ulul amri adalah mencakup umara’ (penguasa/
pemerintah) dan juga ulama (ahli ilmu agama). Beliau juga menjelaskan bahwa makna taatilah Allah artinya
ikutilah Kitab-Nya (Al Qur’an). Sedangkan makna taatilah Rasul adalah ambillah ajaran (Sunnah) beliau.
Adapun makna ketaatan kepada ulul amri adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah bukan dalam hal
maksiat. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang shahih,
“Sesungguhnya ketaatan itu hanya boleh dalam perkara ma’ruf (bukan kemungkaran).” (HR. Bukhari dan
Muslim). Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.
Kalimat tersebut maknanya adalah kembali merujuk kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, demikianlah
tafsiran Mujahid dan para ulama salaf yang lain.
Kemudian Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla bahwa segala sesuatu
yang diperselisihkan oleh manusia yang berkaitan dengan permasalahan pokok-pokok agama maupun cabang-
cabangnya hendaknya perselisihan tentang hal itu harus dikembalikan kepada Al Kitab dan As Sunnah. Ini
sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan apa saja yang kalian perselisihkan maka keputusannya
kembali kepada Allah.” (QS. Asy Syuura: 10). Maka segala keputusan yang diambil oleh Al Kitab dan As Sunnah
serta dipersaksikan keabsahannya oleh keduanya itulah al haq (kebenaran). Dan tidak ada sesudah kebenaran
melainkan kesesatan…” (lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim , II/250).
Kata Salaf Secara Bahasa
Salaf secara bahasa artinya orang yang terdahulu, baik dari sisi ilmu, keimanan, keutamaan atau jasa
kebaikan. Seorang pakar bahasa Arab Ibnu Manzhur mengatakan, “Kata salaf juga berarti orang yang
mendahului kamu, yaitu nenek moyangmu, sanak kerabatmu yang berada di atasmu dari sisi umur dan
keutamaan. Oleh karenanya maka generasi awal yang mengikuti para sahabat disebut dengan salafush shalih
(pendahulu yang baik).” ( Lisanul ‘Arab , 9/159, dinukil dari Limadza, hal. 30). Makna semacam ini serupa
dengan kata salaf yang terdapat di dalam ayat Allah yang artinya, “Maka tatkala mereka membuat Kami
murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya di laut dan Kami jadikan mereka
sebagai salaf (pelajaran) dan contoh bagi orang-orang kemudian.” (QS. Az Zukhruf: 55-56). Artinya adalah:
Kami menjadikan mereka sebagai pelajaran pendahulu bagi orang yang melakukan perbuatan sebagaimana
perbuatan mereka supaya orang sesudah mereka mau mengambil pelajaran dan mengambil nasihat darinya.
(lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih, hal. 20).
Dengan demikian kita bisa serupakan makna kata salaf ini dengan istilah nenek moyang dan leluhur dalam
bahasa kita. Dalam kamus Islam kata ini bukan barang baru. Akan tetapi pada jaman Nabi kata ini sudah
dikenal. Seperti terdapat dalam sebuah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada puterinya Fathimah
radhiyallahu ‘anha . Beliau bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik salafmu adalah aku.” (HR. Muslim). Artinya
sebaik-baik pendahulu. (lihat Limadza , hal. 30, baca juga Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya
Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah, hal. 7). Oleh sebab itu secara bahasa, semua orang
terdahulu adalah salaf. Baik yang jahat seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal maupun yang baik seperti Nabi-
Nabi, para syuhada dan orang-orang shalih dari kalangan sahabat, dll. Adapun yang akan kita bicarakan
sekarang bukanlah makna bahasanya, akan tetapi makna istilah. Hal ini supaya jelas bagi kita semuanya dan
tidak muncul komentar, “Lho kalau begitu JIL juga salafi dong..! Mereka kan juga punya pendahulu” . Maaf,
Mas… bukan itu yang kami maksudkan…
Kemudian apabila muncul pertanyaan “Kenapa harus disebutkan pengertian secara bahasa apabila ternyata
pengertian istilahnya menyelisihi pengertian bahasanya?” . Maka kami akan menjawabnya sebagaimana jawaban
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah . Beliau mengatakan, “Faidahnya adalah supaya kita mengetahui
keterkaitan makna antara objek penamaan syari’at dan objek penamaan lughawi (menurut bahasa). Sehingga
akan tampak jelas bagi kita bahwasanya istilah-istilah syari’at tidaklah melenceng secara total dari sumber
pemaknaan bahasanya. Bahkan sebenarnya ada keterkaitan satu sama lain. Oleh sebab itulah anda jumpai para
fuqaha’ (ahli fikih atau ahli agama) rahimahumullah setiap kali hendak mendefinisikan sesuatu maka mereka
pun menjelaskan bahwa pengertiannya secara etimologi (bahasa) adalah demikian sedangkan secara terminologi
(istilah) adalah demikian; hal ini diperlukan supaya tampak jelas bagimu adanya keterkaitan antara makna
lughawi dengan makna ishthilahi .” (lihat Syarh Ushul min Ilmil Ushul , hal. 38).
Istilah Salaf di Kalangan Para Ulama
Apabila para ulama akidah membahas dan menyebut-nyebut kata salaf maka yang mereka maksud adalah salah
satu di antara 3 kemungkinan berikut:
Pertama: Para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Kedua: Shahabat dan murid-murid mereka ( tabi’in ).
Ketiga: Shahabat, tabi’in dan juga para Imam yang telah diakui kredibilitasnya di dalam Islam yaitu mereka
yang senantiasa menghidupkan sunnah dan berjuang membasmi bid’ah (lihat Al Wajiz , hal. 21).
Syaikh Salim Al Hilaly hafizhahullah menerangkan, “Adapun secara terminologi kata salaf berarti sebuah
karakter yang melekat secara mutlak pada diri para sahabat r adhiyallahu ‘anhum . Adapun para ulama sesudah
mereka juga tercakup dalam istilah ini karena sikap dan cara beragama mereka yang meneladani para
sahabat.” ( Limadza , hal. 30).
Syaikh Doktor Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql mengatakan, “Salaf adalah generasi awal umat ini, yaitu para
sahabat, tabi’in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun yang mendapatkan keutamaan (sahabat,
tabi’in dan tabi’ut tabi’in , -red). Dan setiap orang yang meneladani dan berjalan di atas manhaj mereka di
sepanjang masa disebut sebagai salafi sebagai bentuk penisbatan terhadap mereka.” ( Mujmal Ushul Ahlis
Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah , hal. 5-6).
Al Qalsyani mengatakan di dalam kitabnya Tahrirul Maqalah min Syarhir Risalah , “Adapun Salafush shalih,
mereka itu adalah generasi awal (Islam) yang mendalam ilmunya serta meniti jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan senantiasa menjaga Sunnah beliau. Allah ta’ala telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya
dan menegakkan agama-Nya. Para imam umat ini pun merasa ridha kepada mereka. Mereka telah berjihad di
jalan Allah dengan penuh kesungguhan. Mereka kerahkan daya upaya mereka untuk menasihati umat dan
memberikan kemanfaatan bagi mereka. Mereka juga mengorbankan diri demi menggapai keridhaan
Allah…” ( lihat Limadza , hal. 31). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang adalah
di jamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in ) dan kemudian orang sesudah mereka ( tabi’ut
tabi’in ).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sehingga Rasul beserta para sahabatnya adalah salaf umat ini. Demikian pula setiap orang yang menyerukan
dakwah sebagaimana mereka juga disebut sebagai orang yang menempuh manhaj/metode salaf, atau biasa
disebut dengan istilah salafi, artinya pengikut Salaf. Adapun pembatasan istilah salaf hanya meliputi masa
sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in adalah pembatasan yang keliru. Karena pada masa itupun sudah muncul
tokoh-tokoh pelopor bid’ah dan kesesatan. Akan tetapi kriteria yang benar adalah kesesuaian akidah, hukum
dan perilaku mereka dengan Al Kitab dan As Sunnah serta pemahaman salafush shalih. Oleh karena itulah
siapapun orangnya asalkan dia sesuai dengan ajaran Al Kitab dan As Sunnah maka berarti dia adalah pengikut
salaf. Meskipun jarak dan masanya jauh dari periode Kenabian. Ini artinya orang-orang yang semasa dengan
Nabi dan sahabat akan tetapi tidak beragama sebagaimana mereka maka bukanlah termasuk golongan mereka,
meskipun orang-orang itu sesuku atau bahkan saudara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Al Wajiz , hal. 22,
Limadza, hal. 33 dan Syarah Aqidah Ahlus Sunnah , hal. 8).
Contoh-Contoh Penggunaan Kata “Salaf”
Kata salaf sering digunakan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahihnya. Imam Bukhari rahimahullah
mengatakan, “Rasyid bin Sa’ad berkata: Para salaf menyukai kuda jantan. Karena ia lebih lincah dan lebih
berani.” Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menafsirkan kata salaf tersebut, “Maksudnya adalah para sahabat
dan orang sesudah mereka.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud (oleh Rasyid) adalah para sahabat
radhiyallahu’anhum . Karena Rasyid bin Sa’ad adalah seorang tabi’in (murid sahabat), sehingga orang yang
disebut salaf olehnya adalah para sahabat tanpa ada keraguan padanya.” Demikian pula perkataan Imam
Bukhari, “Az Zuhri mengatakan mengenai tulang bangkai semacam gajah dan selainnya: Aku menemui sebagian
para ulama salaf yang bersisir dengannya (tulang) dan menggunakannya sebagai tempat minyak rambut.
Mereka memandangnya tidaklah mengapa.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud (dengan salaf di sini)
adalah para sahabat radhiyallahu’anhum , karena Az Zuhri adalah seorang tabi’in.” (lihat Limadza, hal. 31-32).
Kata salaf juga digunakan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Di dalam mukaddimahnya Imam Muslim
mengeluarkan hadits dari jalan Muhammad bin ‘Abdullah. Ia (Muhammad) mengatakan: Aku mendengar ‘Ali bin
Syaqiq mengatakan: Aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak mengatakan di hadapan orang banyak,
“Tinggalkanlah hadits (yang dibawakan) ‘Amr bin Tsabit. Karena dia mencaci kaum salaf.” Syaikh Salim
mengatakan, “Yang dimaksud adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum .” ( Limadza, hal. 32).
Kata salaf juga sering dipakai oleh para ulama akidah di dalam kitab-kitab mereka. Seperti contohnya sebuah
riwayat yang dibawakan oleh Imam Al Ajurri di dalam kitabnya yang berjudul Asy Syari’ah bahwa Imam Auza’i
pernah berpesan, “Bersabarlah engkau di atas Sunnah. Bersikaplah sebagaimana kaum itu (salaf) bersikap.
Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan. Tahanlah dirimu sebagaimana sikap mereka menahan diri dari
sesuatu. Dan titilah jalan salafmu yang shalih. Karena sesungguhnya sudah cukup bagimu apa yang membuat
mereka cukup.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud adalah sahabat ridhwanullahi ‘alaihim .” (lihat
Limadza, hal. 32) Hal ini karena Al Auza’i adalah seorang tabi’in .
Kerancuan Seputar Istilah Salafiyah
Sedangkan yang dimaksud dengan salafiyah adalah penyandaran diri kepada kaum salaf. Sehingga bukanlah
makna salafiyah sebagaimana yang disangka sebagian orang sebagai aliran pesantren yang menggunakan
metode pengajaran yang kuno. Yang dengan persangkaan itu mereka anggap bahwa salafiyah bukan sebuah
manhaj (metode beragama) akan tetapi sebagai sebuah sistem belajar mengajar yang belum mengalami
modernisasi. Dan yang terbayang di pikiran mereka ketika mendengarnya adalah sosok para santri yang
berpeci hitam dan memakai sarung kesana kemari dengan menenteng kitab-kitab kuning. Sebagaimana itulah
kenyataan yang ada pada sebagian kalangan yang menisbatkan pondoknya sebagai pondok salafiyah, namun
realitanya mereka jauh dari tradisi ilmiah kaum salaf. Syaikh Salim mengatakan, “Adapun salafiyah adalah
penisbatan diri kepada kaum salaf. Ini merupakan penisbatan terpuji yang disandarkan kepada manhaj yang
lurus dan bukanlah menciptakan sebuah madzhab yang baru ada.” (lihat Limadza, hal. 33).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Dan tidaklah tercela bagi orang yang menampakkan
diri sebagai pengikut madzhab salaf, menyandarkan diri kepadanya dan merasa mulia dengannya. Bahkan wajib
menerima pengakuannya itu dengan dasar kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab salaf
tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.” ( Majmu’ Fatawa , 4/149, lihat Limadza, hal. 33). Maka sungguh aneh
apabila ada orang zaman sekarang ini yang menggambarkan kepada umat bahwasanya salafiyah adalah sebuah
aliran baru yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahumallah yang ‘memberontak’ dari tatanan yang sudah ada dengan berbagai aksi penghancuran dan
pengkafiran yang membabi buta. Sehingga apabila mereka mendengar istilah salafiyah maka yang tergambar
di benak mereka adalah kaum Wahabi yang suka mengacaukan ketentraman umat dengan berbagai aksi
penyerangan dan tindakan-tindakan tidak sopan. Atau ada lagi yang menganggap bahwa salafiyah adalah
gerakan reformasi dakwah yang dipelopori oleh Jamaluddin Al Afghani bersama Muhammad ‘Abduh pada era
penjajahan Inggris di Mesir. Padahal ini semua menunjukkan bahwa mereka itu sebenarnya tidak paham
tentang sejarah munculnya istilah ini.
Syaikh Salim mengatakan, “Orang yang mengeluarkan pernyataan semacam ini atau yang turut
menyebarkannya adalah orang yang tidak mengerti sejarah kalimat ini menurut tinjauan makna, asal-usul dan
perjalanan waktu yang hakikatnya tersambung dengan para salafush shalih. Oleh karena itu sudah menjadi
kebiasaan para ulama pada masa terdahulu untuk mensifati setiap orang yang mengikuti pemahaman sahabat
radhiyallahu ‘anhum dalam hal akidah dan manhaj sebagai seorang salafi (pengikut Salaf). Lihatlah ucapan
seorang ahli sejarah Islam Al Hafizh Al Imam Adz Dzahabi di dalam kitabnya Siyar A’laamin Nubalaa’ (16/457)
ketika membawakan ucapan Al Hafizh Ad Daruquthni, “Tidak ada yang lebih kubenci selain menekuni ilmu
kalam/filsafat.” Maka Adz Dzahabi pun mengatakan (dengan nada memuji, red), “Orang ini (Ad Daruquthni)
belum pernah terjun dalam ilmu kalam sama sekali begitu pula tidak menceburkan dirinya dalam dunia
perdebatan (yang tercela) dan beliau juga tidak ikut meramaikan perbincangan di dalam hal itu. Akan tetapi
beliau adalah seorang salafi.” ( Limadza, hal. 34-35).
Perlu kita ketahui bersama bahwa Imam Ad Daruquthni yang disebut sebagai ‘salafi’ oleh Imam Adz Dzahabi di
atas hidup pada tahun 306-385 H. Sedangkan Ibnu Taimiyah hidup pada tahun 661-728 H. Adapun Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab hidup pada tahun 1115-1206 H. Nah, pembaca bisa menyaksikan sendiri siapakah
yang lahir terlebih dahulu. Apakah Ibnu Taimiyah atau bahkan Muhammad bin Abdul Wahhab itu lahir sebelum
Ad Daruquthni sehingga beliau layak untuk disebut sebagai pengikut mereka berdua. Apakah dengan penukilan
semacam ini kita akan menafsirkan bahwa Imam Ad Daruquthni adalah pengikut Ibnu Taimiyah atau Muhammad
bin Abdul Wahhab?? Jawablah wahai kaum yang berakal… Anak kelas 5 SD pun (bukan bermaksud meremehkan,
red) tahu kalau yang namanya pengikut itu adanya sesudah keberadaan yang diikuti, bukan sebaliknya.
Wallaahul musta’aan .
Penamaan Salafiyah Bukan Bid’ah
Kalau ada orang yang mengatakan bahwa istilah salafiyah adalah istilah bid’ah karena ia tidak digunakan pada
masa sahabat radhiyallahu’anhum . Maka jawabannya ialah: Kata salafiyah memang belum digunakan oleh Rasul
dan para sahabat karena pada saat itu hal ini belum dibutuhkan. Pada saat itu kaum muslimin generasi awal
masih hidup di dalam pemahaman Islam yang shahih sehingga tidak dibutuhkan penamaan khusus seperti ini.
Mereka bisa memahami Islam dengan murni tanpa perlu khawatir akan adanya penyimpangan karena Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada di antara mereka. Hal ini sebagaimana mereka mampu berbicara
dengan bahasa Arab yang fasih tanpa perlu mempelajari ilmu Nahwu, Sharaf dan Balaghah. Apakah ada di
antara para ulama yang membid’ahkan ilmu-ilmu tersebut karena semata-mata tidak ada di zaman Nabi ?!
Oleh karena itulah tatkala muncul berbagai kekeliruan dan penyimpangan dalam penggunaan bahasa Arab maka
muncullah ilmu-ilmu bahasa Arab tersebut demi meluruskan kembali pemahaman dan menjaga keutuhan bahasa
Arab. Maka demikian pula dengan istilah salafiyah.
Di saat sekarang ini ketika sekian banyak penyimpangan pemahaman bertebaran di udara kaum muslimin maka
sangat dibutuhkan adanya rambu-rambu yang jelas demi mengembalikan pemahaman Islam kepada pemahaman
yang masih murni dan lurus. Apalagi mayoritas kelompok yang menyerukan pemahaman yang menyimpang itu
juga mengaku sebagai pengikut Al Qur’an dan As Sunnah. Berdasarkan realita inilah para ulama bangkit untuk
berupaya memisahkan pemahaman yang masih murni ini dengan pemahaman-pemahaman lainnya dengan nama
pemahaman ahli hadits dan salaf atau salafiyah (lihat Limadza, hal. 36).
Kalaupun masih ada orang yang tetap ngotot mengingkari istilah ini maka kami akan katakan kepadanya:
Kalau dia konsekuen dengan pengingkaran ini maka dia pun harus menolak penamaan lainnya yang tidak ada di
zaman Nabi seperti istilah Hanbali (pengikut fikih Ahmad bin Hanbal), Hanafi (pengikut fikih Abu Hanifah),
Nahdhiyyiin (pengikut Nahdhatul Ulama), dll. Kalau dia mengatakan, “ Oo, kalau ini berbeda…!” Maka kami
katakan: Baiklah, anggap istilah salafiyah berbeda dengan istilah-istilah itu, namun kami tetap mengatakan
bahwa penamaan salafiyah lebih layak untuk dipakai daripada istilah Hanbali, Hanafi atau Nahdhiyyiin.
Alasannya adalah karena salafiyah adalah penisbatan kepada generasi Shahabat yang sudah dipuji oleh Allah
dan Rasul-Nya dan terjaga secara umum dari bersepakat dalam kesalahan. Adapun Hanbali, Hanafi dan
Nahdhiyyiin adalah penisbatan kepada individu dan kelompok yang tidak terdapat dalil tegas tentang
keutamaannya serta tidak terjamin dari kesalahan mereka secara kelompok. Maka bagaimana mungkin kita
bisa menerima penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang tidak ma’shum (terpelihara dari kesalahan) dan
justru menolak penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang ma’shum…?? Laa haula wa laa quwwata illa
billaah… (lihat Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 66-67 karya Doktor Muhammad Musa Nashr
hafizhahullah, silakan baca juga fatwa para ulama tentang wajibnya berpegang teguh dengan manhaj Salaf di
dalam Rubrik Fatwa, Majalah Al Furqan Edisi 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427 H/April 2006 M hal. 51-53.
Bacalah…!).
Meninggalkan Salaf Berarti Meninggalkan Islam
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah pernah ditanya: Kenapa harus menamakan diri dengan
salafiyah? Apakah ia sebuah dakwah yang menyeru kepada partai, kelompok atau madzhab tertentu. Ataukah
ia merupakan sebuah firqah (kelompok) baru di dalam Islam? Maka beliau rahimahullah menjawab,
“Sesungguhnya kata Salaf sudah sangat dikenal dalam bahasa Arab. Adapun yang penting kita pahami pada
kesempatan ini adalah pengertiannya menurut pandangan syari’at. Dalam hal ini terdapat sebuah hadits
shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau berkata kepada Sayyidah Fathimah radhiyallahu
‘anha di saat beliau menderita sakit menjelang kematiannya, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Dan
sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu)mu adalah aku.” Begitu pula para ulama banyak sekali memakai
kata salaf. Dan ungkapan mereka dalam hal ini terlalu banyak untuk dihitung dan disebutkan. Cukuplah
kiranya kami bawakan sebuah contoh saja. Ini adalah sebuah ungkapan yang digunakan para ulama dalam
rangka memerangi berbagai macam bid’ah. Mereka mengatakan, “Semua kebaikan ada dalam sikap mengikuti
kaum salaf… dan semua keburukan bersumber dalam bid’ah yang diciptakan kaum khalaf (belakangan).” …”
Kemudian Syaikh melanjutkan penjelasannya, “Akan tetapi ternyata di sana ada orang yang mengaku dirinya
termasuk ahli ilmu; ia mengingkari penisbatan ini dengan sangkaan bahwa istilah ini tidak ada dasarnya di
dalam agama, sehingga ia mengatakan, “Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengatakan saya adalah
seorang salafi.” Seolah-olah dia ini mengatakan, “Seorang muslim tidak boleh mengatakan: Saya adalah
pengikut salafush shalih dalam hal akidah, ibadah dan perilaku.” Dan tidak diragukan lagi bahwasanya
penolakan seperti ini -meskipun dia tidak bermaksud demikian- memberikan konsekuensi untuk berlepas diri
dari Islam yang shahih yang diamalkan oleh para salafush shalih yang mendahului kita yang ditokohi oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana disinggung di dalam hadits mutawatir di dalam shahihain dan
selainnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah di
zamanku (sahabat), kemudian diikuti orang sesudah mereka, dan kemudian sesudah mereka.” Oleh sebab itu
maka tidaklah diperbolehkan bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari menisbatkan dirinya kepada salafush
shalih. Berbeda halnya dengan penisbatan (salafiyah) ini, seandainya dia berlepas diri dari penisbatan (kepada
kaum atau kelompok) yang lainnya niscaya tidak ada seorang pun di antara para ulama yang akan
menyandarkannya kepada kekafiran atau kefasikan…” ( Al Manhaj As Salafi ‘inda Syaikh Al Albani, hal. 13-19,
lihat Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 65-66 karya Doktor Muhammad Musa Nashr
hafizhahullah).
Cinta Salaf Berarti Cinta Islam
Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya salaf atau para sahabat adalah generasi pilihan yang harus kita cintai.
Sebagaimana kita mencintai Nabi maka kita pun harus mencintai orang-orang pertama yang telah
mengorbankan jiwa, harta dan pikiran mereka untuk membela dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka
itulah para sahabat yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Inilah akidah kita, tidak sebagaimana akidah kaum
Rafidhah/Syi’ah yang membangun agamanya di atas kebencian kepada para sahabat Nabi. Imam Abu Ja’far
Ath Thahawi rahimahullah mengatakan di dalam kitab ‘Aqidahnya yang menjadi rujukan umat Islam di
sepanjang zaman, “Kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kami tidak melampaui
batas dalam mencintai salah satu di antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di
antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang yang
menceritakan mereka dengan cara tidak baik. Kami tidak menceritakan mereka kecuali dengan kebaikan.
Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran,
kemunafikan dan pelanggaran batas.” ( Syarah ‘Aqidah Thahawiyah cet. Darul ‘Aqidah, hal. 488). Pernyataan
beliau ini adalah kebenaran yang dibangun di atas dalil-dalil syari’at, bukan sekedar omong kosong dan bualan
belaka sebagaimana akidahnya kaum Liberal. Marilah kita buktikan…
Berikut ini dalil-dalil hadits yang menunjukkan bahwa mencintai kaum Anshar adalah tanda keimanan
seseorang. Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab di dalam kitabul Iman di kitab Shahihnya dengan
judul ‘Bab tanda keimanan ialah mencintai kaum Anshar’ . Kemudian beliau membawakan sebuah hadits dari
Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar,
dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (Bukhari no. 17). Imam Muslim juga mengeluarkan
hadits ini di dalam Kitabul Iman dengan lafazh, “Tanda orang munafik adalah membenci Anshar. Dan tanda
orang beriman adalah mencintai Anshar.” (Muslim no. 74) di dalam bab Fadha’il Anshar (Keutamaan kaum
Anshar). Imam bukhari juga membawakan hadits Barra’ bin ‘Azib bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Kaum Anshar, tidak ada orang yang mencintai mereka kecuali orang beriman.” Imam Muslim juga
meriwayatkan di dalam kitab shahihnya dari Abu Sa’id bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak
ada seorang pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir lantas membenci kaum Anshar.” (Muslim no. 77).
Dalam riwayat lain dikatakan, “Tidaklah mencintai mereka kecuali orang beriman dan tidaklah membenci
mereka kecuali orang munafik. Barangsiapa yang mencintai mereka maka Allah mencintainya. Dan barangsiapa
yang membenci mereka maka Allah juga membencinya.” (Muslim no. 75). Begitu pula Imam Ahmad
mengeluarkan hadits dari Abu Sa’id di dalam Musnadnya, bahwa Nabi bersabda, “Mencintai kaum Anshar
adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan.” (lihat Fathul Bari , 1/80, Syarah Muslim,
2/138-139).
Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan sebagian hadits di atas mengatakan, “…Makna hadits-hadits ini
adalah barangsiapa yang mengakui kedudukan kaum Anshar, keunggulan mereka dalam hal pembelaan
terhadap agama Islam, upaya mereka dalam menampakkannya, dan melindungi umat Islam (dari serangan
musuhnya), dan juga kesungguhan mereka dalam menunaikan tugas penting dalam agama Islam yang
dibebankan kepada mereka, kecintaan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kecintaan Nabi
kepada mereka, kesungguhan mereka dalam mengerahkan harta dan jiwa di hadapan beliau, peperangan dan
permusuhan mereka terhadap semua umat manusia (yang menentang dakwah Nabi, red) demi menjunjung
tinggi Islam….maka ini semua menjadi salah satu tanda kebenaran iman dan ketulusannya dalam memeluk
Islam…” ( Syarah Muslim , 2/139).
Selain itu dalil-dalil dari Al Qur’an juga lebih jelas lagi menunjukkan kepada kita bahwa mencintai para
sahabat adalah bagian keimanan yang tidak bisa dipisahkan. Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah mengatakan,
“Para sahabat adalah generasi terbaik, ini berdasarkan sabda Nabi ‘alaihis shalatu was salam, “Sebaik-baik
kurun (masa) adalah masaku. Kemudian orang-orang yang mengikuti sesudah mereka. Dan kemudian generasi
berikutnya yang sesudah mereka.” Maka mereka itu adalah kurun terbaik karena keutamaan mereka dalam
bersahabat dengan Nabi ‘alaihish shalatu was salam. Sehingga mencintai mereka adalah keimanan dan
membenci mereka adalah kemunafikan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “…Supaya Allah membuat orang-
orang kafir benci dengan adanya mereka (para sahabat).” (QS. Al Fath: 29). Maka kewajiban seluruh umat
Islam adalah mencintai keseluruhan para sahabat dengan dalil tegas dari ayat ini. Karena Allah ‘azza wa jalla
sudah mencintai mereka dan juga kecintaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Dan juga karena
mereka telah berjihad di jalan Allah, menyebarkan agama Islam ke berbagai belahan timur dan barat bumi,
mereka muliakan Rasul dan beriman kepada beliau. Mereka juga telah mengikuti cahaya petunjuk yang
diturunkan bersamanya. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” ( Syarah ‘Aqidah Thahawiyah , hal. 489-490).
Catatan:
Perlu kita perhatikan riwayat yang dibawakan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan di atas yaitu hadits yang bunyinya,
“Sebaik-baik kurun (masa) adalah masaku dst” dengan lafazh khairul quruun… . Syaikh Salim Al Hilaly
mengatakan, “Hadits ini tersebar di dalam banyak kitab dengan lafazh khairul quruun (sebaik-baik masa).
Saya (Syaikh Salim) katakan: Lafazh ini tidak terpelihara keotentikannya. Adapun yang benar adalah yang
sudah kami sebutkan (yaitu Khairunnaas; sebaik-baik manusia, red).” (lihat Limadza Ikhtartul Manhaj Salafi,
hal. 87).
Benci Salaf Berarti Benci Islam
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama
dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat
mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka
mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,
yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi
besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena
Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah
menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan
dan pahala yang besar.” (QS. Al Fath: 29). Di dalam ayat ini disebutkan bahwa salah satu ciri para sahabat
yaitu membuat jengkel dan marah orang-orang kafir.
Imam Ibnu Katsir mengatakan di dalam tafsirnya terhadap ayat yang mulia ini, “Dan berdasarkan ayat inilah
Imam Malik rahimahullah menarik sebuah kesimpulan hukum sebagaimana tertera dalam salah satu riwayat
darinya untuk mengkafirkan kaum Rafidhah (bagian dari Syi’ah) yang membenci para sahabat
radhiyallahu’anhum . Beliau (Imam Malik) mengatakan, “Hal itu karena mereka (para sahabat) membuat benci
dan jengkel mereka (kaum Rafidhah). Barangsiapa yang membenci para sahabat radhiyallahu’anhum maka dia
telah kafir berdasarkan ayat ini.” Dan sekelompok ulama radhiyallahu’anhum pun ikut menyetujui sikap beliau
ini…” (lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim , 7/280).
Dari perkataan Imam Malik dan penjelasan Imam Ibnu Katsir ini teranglah bagi kita bahwasanya konflik yang
terjadi antara kaum Syi’ah (yang dulu maupun para pengikut Khomeini yang ada sekarang ini) dengan Ahlus
Sunnah/Sunni bukanlah konflik politik atau perebutan kekuasaan yang diselimuti dengan jubah agama
sebagaimana yang dikatakan oleh Gus Dur -semoga Allah memberinya petunjuk-, Kyai ini mengatakan di
dalam sebuah wawancaranya dengan JIL (yang sama-sama suka menebarkan syubhat kepada umat Islam),
“Konflik itu (maksudnya antara Syi’ah dan Sunni, red) muncul akibat doktrin agama yang dimanipulasi secara
politis. Sejarah mengabarkan pada kita, dulu muncul peristiwa penganiyaan terhadap menantu Rasulullah, Ali
bin Abi Thalib dan anak cucunya. Keluarga inilah yang disebut Ahlul Bayt, dan mereka memiliki pendukung
fanatik. Pendukung atau pengikut di dalam bahasa Arab disebut syî’ah. Selanjutnya kata syî’ah ini menjadi
sebutan dan identitas bagi pengikut Ali yang pada akhirnya menjadi salah satu firkah teologis dalam Islam.
Sedangkan pihak yang menindas Ali dan pengikutnya dikenal dengan sebutan Sunni. Persoalan sesungguhnya
waktu itu adalah tentang perebutan kekuasaan atau persoalan politik. Namun doktrin agama dibawa-
bawa.” (wawancara JIL dengan Gus Dur tentang RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi) Ini adalah kedustaan… !!!
(silakan baca tulisan Ustadz Abdul Hakim Abdat dalam Al Masaa’il jilid 3 Masalah 66, hal 42-72 yang
membongkar kedok kaum Syi’ah dengan menyertakan fatwa-fatwa para ulama tentang Rafidhah/Syi’ah.
Baca juga Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V/Muharram 1427 dengan tema Agama Syi’ah Semoga Allah
memberikan ganjaran yang besar kepada ustadz-ustadz kita karena jasa mereka ini. Bacalah!!).
Imam Ibnu Katsir juga mengatakan, “…Para sahabat itu memiliki keutamaan lebih, begitu pula lebih dahulu
(berjasa bagi umat Islam) dan lebih sempurna, yang tidak ada seorangpun di antara umat ini yang mampu
menyamai kehebatan mereka, semoga Allah meridhai mereka dan aku pun ridha kepada mereka. Allah telah
menyiapkan surga-surga Firdaus sebagai tempat tinggal mereka, dan Allah telah menetapkan hal itu. (Imam)
Muslim mengatakan di dalam shahihnya: Yahya bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah
menceritakan kepada kami dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu . Beliau
mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabatku. Demi
Dzat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya ada salah seorang di antara kalian yang berinfak emas
sebesar Gunung Uhud niscaya itu tidak bisa mencapai (pahala) satu mud sedekah mereka, bahkan setengahnya
juga tidak.” (HR. Muslim dalam Fadha’il Shahabah, diriwayatkan juga Al Bukhari dalam kitab Al Manaaqib no.
3673).” (lihat Tafsir Ibnu Katsir 7/280).
Allah Meridhai Salaf dan Para Pengikutnya
Di dalam ayat yang lain Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang
pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi
mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya.
Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100). Di dalam ayat ini Allah memuji tiga golongan manusia
yaitu: kaum Muhajirin, kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka kita katakan
bahwa Muhajirin dan Anshar itulah generasi salafsuh shalih. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik itulah yang disebut sebagai salafi. Al Ustadz Abdul Hakim Abdat hafizhahullah mengatakan, “Ayat
yang mulia ini merupakan sebesar-besar ayat yang menjelaskan kepada kita pujian dan keridhaan Allah
kepada para Shahabat radhiyallahu ‘anhum . Bahwa Allah ‘azza wa jalla telah ridha kepada para Shahabat dan
mereka pun ridha kepada Allah ‘azza wa jalla. Dan Allah ‘azza wa jalla juga meridhai orang-orang yang
mengikuti perjalanan para Shahabat dari tabi’in , tabi’ut tabi’in dan setrusnya dari orang alim sampai orang
awam di timur dan di barat bumi sampai hari ini. Mafhum -nya, mereka yang tidak mengikuti perjalanan para
Shahabat, apalagi sampai mengkafirkannya, maka mereka tidak akan mendapatkan keridhaan Allah subhanahu
wa ta’ala.” ( Al Masaa’il jilid 3, hal. 74).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan tentang tafsir ayat ini, “Allah ta’ala mengabarkan bahwa
keridhaan-Nya tertuju kepada orang-orang yang terlebih dahulu (masuk Islam) yaitu kaum Muhajirin dan
Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sedangkan bukti keridhaan-Nya kepada mereka
adalah dengan mempersiapkan surga-surga yang penuh dengan kenikmatan serta kelezatan yang abadi bagi
mereka…” ( Tafsir Ibnu Katsir , 4/140). Imam Al Alusi menerangkan bahwa yang dimaksud dengan As Saabiquun
adalah seluruh kaum Muhajirin dan Anshar ( Ruuhul Ma’aani, Maktabah Syamilah ). Imam Syaukani menjelaskan
bahwa yang dimaksud dengan, “Orang-orang yang mengikuti” di dalam ayat ini adalah orang-orang sesudah
mereka (para sahabat) hingga hari kiamat. Adapun kata-kata, “dengan baik” merupakan ciri pembatas yang
menunjukkan jati diri mereka. Artinya mereka adalah orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan
senantiasa berpegang teguh dengan kebaikan dalam hal perbuatan maupun perkataan sebagai bentuk peniruan
mereka terhadap As Sabiquunal Awwaluun , tafsiran serupa juga disampaikan oleh Syaikh As Sa’di di dalam
tafsirnya (Lihat Fathul Qadir dan Taisir Karimir Rahman, Maktabah Syamilah). Imam Ibnu Jarir Ath Thabari
mengatakan di dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan “Orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik” di dalam ayat ini adalah: Orang-orang yang meniti jalan mereka dalam beriman kepada Allah dan Rasul-
Nya serta berhijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam dalam rangka mencari keridhaan Allah..” ( Tafsir
Ath Thabari, Maktabah Syamilah ).
Imam Asy Syinqithi rahimahullah mengatakan, “(Ayat) Ini merupakan dalil tegas dari Al Qur’an yang
menunjukkan bahwasanya barangsiapa mencaci mereka (para sahabat) dan membenci mereka maka dia adalah
orang yang sesat dan menentang Allah jalla wa ‘ala, dimana dia telah berani membenci suatu kaum yang telah
diridhai Allah. Dan tidak diragukan lagi bahwa kebencian kepada orang yang sudah diridhai Allah merupakan
sikap penentangan kepada Allah jalla wa ‘ala, tindakan congkak dan melampaui batas.” (lihat Adhwaa’ul
Bayaan, Maktabah Syamilah ). Masih dalam konteks penafsiran ayat ini Imam Ibnu Katsir rahimahullah
memberikan sebuah komentar pedas yang akan membakar telinga ahlul bid’ah pencela shahabat. Beliau
mengatakan, “Duhai alangkah celaka orang yang membenci atau mencela mereka (semua sahabat), sungguh
celaka orang yang membenci atau mencela sebagian mereka…” Setelah memberitakan sikap orang-orang
Rafidhah yang memusuhi, membenci dan mencela orang-orang terbaik sesudah Nabi (diantaranya Abu Bakar
dan ‘Umar) Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Sikap ini (yaitu permusuhan, kebencian dan celaan kaum Rafidhah
atau Syi’ah) menunjukkan bahwa akal mereka sudah terbalik dan hati mereka juga sudah terbalik. Lalu
dimanakah letak keimanan mereka terhadap Al Qur’an sehingga berani-beraninya mereka mencela orang-
orang yang telah diridhai oleh Allah?…” ( Tafsir Ibnu Katsir , 4/140) Maka hanguslah telinga-telinga ahlul
bid’ah;… mereka yang membenci dan mencaci maki para shahabat; generasi terbaik yang pernah hidup di
permukaan bumi ini, radhiyallahu ‘anhum wa ardhaahum (Allah ridha kepada mereka dan saya pun ridha
kepada mereka).
Pemahaman Salaf Adalah Jalan Keluar Perselisihan
Abu Naajih ‘Irbadh bin Saariyah radhiyallahu’anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
memberikan sebuah nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan air mata
bercucuran. Maka kamipun mengatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah. Seolah-olah ini merupakan nasihat
dari orang yang hendak berpisah. Maka sudilah kiranya anda memberikan wasiat kepada kami”. Beliau pun
bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian supaya senantiasa bertakwa kepada Allah. Dan tetaplah mendengar
dan taat (kepada pemimpin). Meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena sesungguhnya
barangsiapa yang hidup sesudahku niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka berpeganglah dengan
Sunnahku, dan Sunnah para khalifah yang lurus dan berpetunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi
geraham. Serta jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (di dalam agama). Karena semua bid’ah
(perkara yang diada-adakan dalam agama) adalah sesat.”
Imam Nawawi mengatakan: (hadits ini) diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Beliau (Tirmidzi) menilainya
‘Hadits hasan shahih’. Pen- takhrij Ad Durrah As Salafiyah menyebutkan bahwa derajat hadits ini: shahih.
Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (4/126), Abu Dawud (4607), Tirmidzi (2676), Al Haakim (1/174), Ibnu
Hibaan (1/179) serta dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ hadits no. 2549 (lihat Ad Durrah
As Salafiyyah Syarh Al Arba’in An Nawawiyah , cet. Markaz Fajr lith Thab’ah hal. 199, Lihat juga Lau Kaana
Khairan , hal. 164).
Di dalam hadits yang mulia ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan sebuah solusi bagi
umat tatkala menyaksikan sekian banyak perselisihan yang ada sesudah beliau wafat: yaitu berpegang teguh
dengan Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin . Imam Nawawi menerangkan bahwa yang dimaksud
Khulafa’ur Rasyidin adalah para khalifah yang empat yaitu; Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali
radhiyallahu’anhum (lihat Ad Durrah As Salafiyah, hal. 201). Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied juga menjelaskan bahwa
mereka adalah keempat khalifah tersebut berdasarkan ijma’ (lihat Ad Durrah As Salafiyah , hal. 202). Syaikh
Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita
tatkala melihat perselisihan ini (yaitu banyaknya perselisihan, sebagaimana disebutkan di dalam hadits) supaya
berpegang teguh dengan Sunnah beliau. Arti dari ungkapan ‘alaikum bi sunnatii ialah; Berpegang teguhlah
dengannya (dengan Sunnah Nabi)…”. Beliau rahimahullah juga berkata, “Sedangkan makna kata Sunnah beliau
‘alaihish shalaatu was salaam adalah: jalan yang beliau tempuh, yang mencakup akidah, akhlak, amal, ibadah
dan lain sebagainya. Kita harus berpegang teguh dengan Sunnah (ajaran) beliau. Dan kita pun berhakim
kepadanya. Sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka pada
hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan
mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisaa’: 65). Dengan demikian Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi orang yang dikehendaki Allah untuk selamat dari
berbagai perselisihan dan berbagai macam kebid’ahan…” ( Syarh Riyadhush Shalihin , I/603).
Di dalam keterangan beliau terhadap Hadits Arba’in Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
mengatakan, “…Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya kita berpegang teguh
dengan Sunnah-nya; yaitu jalan beliau, dan juga supaya berpegang teguh dengan jalan Khulafa’ur Rasyidin Al
Mahdiyyin . Dan juga termasuk di dalamnya ( Khulafa’ur Rasyidin ) adalah para khalifah/pengganti Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ilmu, ibadah dan dakwah pada umatnya, dan sebagai pemuka mereka
ialah empat orang Khalifah; yaitu Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu’anhum .” (lihat Ad Durrah
As Salafiyah, hal. 203). Keterangan Syaikh ‘Utsaimin ini serupa dengan keterangan Imam Al Mubarakfuri.
Beliau mengatakan, “Sesungguhnya hadits itu umum berlaku bagi setiap khalifah yang lurus dan tidak
dikhususkan bagi dua orang Syaikh (Abu Bakar dan ‘Umar) saja. Dan telah dimaklumi berdasarkan kaidah-
kaidah syari’at bahwa seorang khalifah yang lurus tidak diperkenankan untuk menetapkan suatu jalan selain
jalan yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .” ( Tuhfatul Ahwadzi , 3/50-51, dinukil dari Limadza,
hal. 74-75).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan ( Majmu’ Fatawa, 1/282), “Adapun yang dimaksud dengan Sunnah
(ajaran) Khulafa’ur Rasyidin maka sebenarnya mereka tidaklah menggariskan sebuah ajaran kecuali
berdasarkan perintah beliau (Nabi), maka dengan begitu ia termasuk bagian dari Sunnah beliau…” (dinukil dari
Limadza, hal. 73). Di dalam Tuhfatul Ahwadzi (3/50 dan 7/420) Al Mubarakfuri juga mengatakan, “Bukanlah
yang dimaksud dengan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin kecuali jalan hidup mereka yang sesuai dengan dengan jalan
hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam …” (dinukil dari Limadza, hal. 73).
Kesimpulan dari penjelasan para ulama di atas ialah sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Salim Al Hilali. Beliau
mengatakan, “Dengan demikian kesimpulan semua keterangan ini menunjukkan bahwa Sunnah Khulafa’ur
Rasyidin adalah pemahaman para Shahabat radhiyallahu ‘anhum terhadap agama, karena mereka senantiasa
meniti jalan sebagaimana jalan pemahaman dan penerapan Islam yang diajarkan oleh Nabi mereka…” ( Limadza,
hal. 75) Maka kita juga mengatakan bahwasanya jalan keluar bagi umat Islam dari sekian banyak perselisihan
yang dapat kita saksikan dengan mata kepala kita pada hari ini berupa munculnya berbagai macam firqah dan
aliran-aliran adalah memegang teguh Sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
mengikuti pemahaman para Shahabat radhiyallahu’anhum. Atau dengan kalimat yang ringkas kita katakan
‘Dengan mengikuti manhaj salaf’. Inilah hakikat dari istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Barangsiapa tidak
mengikuti pemahaman para Shahabat maka dia telah menentang Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
agung ini.
Hakikat Ahlus Sunnah wal Jama’ah
As Sunnah secara bahasa artinya jalan. Adapun secara istilah As Sunnah adalah ajaran Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya, baik berupa keyakinan, perkataan maupun perbuatan. Dalam hal ini
Sunnah menjadi lawan dari bid’ah. Bukan sunnah dalam terminologi fikih. Karena sunnah menurut istilah fikih
adalah segala perbuatan ibadah yang bila dikerjakan berpahala akan tetapi bila ditinggalkan tidak berdosa.
Maka sunnah yang dimaksud dalam istilah Ahlus Sunnah adalah seluruh ajaran Rasul dan para sahabat, baik
yang hukumnya wajib maupun sunnah!! (silakan baca Lau Kaana Khairan karya Ustadz Abdul Hakim, hal. 14-17
baca juga Panduan Aqidah Lengkap penerbit Pustaka Ibnu Katsir hal. 36-40).
Al Jama’ah secara bahasa artinya kumpulan orang yang bersepakat untuk suatu perkara. Sedangkan menurut
istilah syar’i, al jama’ah berarti orang-orang yang bersatu di atas kebenaran yaitu jama’ah para sahabat
beserta orang-orang sesudah mereka hingga hari kiamat yang meniti jejak mereka dalam beragama di atas Al
Kitab dan As Sunnah secara lahir maupun batin. Oleh karena itu seorang Sahabat yang mulia Abdullah bin
Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Al Jama’ah adalah segala yang sesuai dengan al haq walaupun
engkau seorang diri.” (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih, hal. 29 dan 30). Ukuran seseorang berada di
atas jama’ah bukanlah jumlah. Akan tetapi ukurannya adalah sejauh mana dia berpegang teguh dengan
kebenaran yaitu Islam yang murni yang dipahami oleh para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum . Sebagaimana
hal ini telah diisyaratkan oleh Rasul ketika menceritakan akan terjadi perpecahan umat ini menjadi 73
golongan, semuanya di neraka kecuali satu yaitu al jama’ah . Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa mereka itu
adalah orang-orang yang beragama sebagaimana Nabi dan para sahabat. Hadits perpecahan umat adalah
hadits yang sah menurut ulama ahli hadits. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di dalam
Majmu’ Fatawa (3/345), “Hadits tentang perpecahan umat adalah hadits yang shahih dan sangat populer di
dalam kitab-kitab sunan dan musnad.” (lihat Al Minhah Al Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah , hal. 348,
Silsilah Ash Shahihah no. 203 dan 204 karya Al Imam Al Albani rahimahullah , baca keterangan tentang status
dan faidah-faidah dari hadits perpecahan umat di dalam buku Lau Kaana Khairan , hal. 190-196).
Sehingga hakikat Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Sunnah Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah para sahabatnya dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dan
menempuh jalan mereka dalam berkeyakinan, berucap dan mengerjakan amalan, demikian pula orang-orang
yang konsisten di atas jalur ittiba’ (mengikuti Sunnah) dan menjauhi jalur ibtida’ (mereka-reka bid’ah).
Mereka senantiasa ada, eksis dan mendapatkan pertolongan (dari Allah) hingga datangnya hari kiamat. Oleh
sebab itu maka mengikuti mereka adalah hidayah sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan. Mereka
itulah yang disebut dengan istilah ‘salaf’ (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih, hal. 30, Panduan Aqidah
Lengkap hal. 40, baca juga definisi Ahlus Sunnah di dalam Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah
hal. 17-18, karya Syaikh Doktor Muhammad bin Husain Al Jizani hafizhahullah).
Sedangkan lawan dari Ahlus Sunnah adalah Ahlul bid’ah yaitu orang-orang yang tetap mengerjakan bid’ah
sesudah ditegakkan hujjah atas mereka, baik bid’ah i’tiqadiyyah (keyakinan) maupun bid’ah amaliyah
(amalan), tetapi kemudian mereka tetap istiqamah dengan bid’ahnya (lihat Lau Kaana Khairan , hal. 170). Kita
tidak boleh sembarangan dalam menghukumi seseorang atau jama’ah sebagai ahli bid’ah. Syaikh Al Albani
berkata, “Terjatuhnya seorang ulama dalam bid’ah tidaklah secara otomatis menjadikannya sebagai seorang
ahli bid’ah….” “…Ada dua persyaratan agar seseorang dikatakan sebagai ahli bid’ah:
1. Ia bukanlah seorang mujtahid, namun seorang pengikut hawa nafsu.
2. Berbuat bid’ah merupakan kebiasaannya ( Silsilah Huda wa Nur, kaset no. 785)
Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad (Ahli hadits Madinah saat ini) berkata, “Tidak semua orang yang melakukan
bid’ah secara otomatis menjadi ahli bid’ah. Hanyalah dikatakan ahli bid’ah bagi orang yang telah jelas dan
dikenal dengan bid’ahnya. Sebagian orang sangat berani dalam pembid’ahan sampai-sampai mentabdi’ orang
yang memiliki kebaikan dan memberi manfaat yang banyak bagi masyarakat. Sebagian orang menyebut setiap
orang yang menyelisihinya sebagai ahli bid’ah.” (dinukil dari Ringkasan buku Lerai Pertikaian, Sudahi
Permusuhan karya Ustadz Abu Abdil Muhsin hafizhahullah).
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Siapakah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah wal
Jama’ah? Beliau menjawab, “Yang disebut sebagai Ahlus Sunnah wal jama’ah hanyalah orang-orang yang
benar-benar berpegang teguh dengan As Sunnah (ajaran Nabi) dan mereka bersatu di atasnya. Mereka tidak
menyimpang kepada selain ajaran As Sunnah, baik dalam urusan keyakinan ilmiah maupun dalam masalah amal
praktik hukum. Oleh sebab inilah mereka disebut dengan Ahlus Sunnah, yaitu karena mereka bersatu padu di
atasnya (di atas Sunnah). Dan apabila anda cermati keadaan ahlul bid’ah niscaya anda dapatkan mereka itu
berselisih dalam hal metode akidah dan amaliah, ini menunjukkan bahwa mereka itu sangat jauh dari petunjuk
As Sunnah, tergantung dengan kadar kebid’ahan yang mereka ciptakan.” ( Fatawa Arkanul Islam , hal. 21).
Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki sebutan lain di kalangan para ulama yaitu: Ash-habul Hadits atau Ahlul
Hadits (pengikut dan pembela hadits), Ahlul Atsar (pengikut jejak salaf), Ahlul Ittiba’ (Peniti Sunnah Nabi),
Al Ghurabaa’ (Orang-orang yang terasing dari berbagai keburukan), Ath Thaa’ifah Al Manshurah (Kelompok
yang mendapatkan pertolongan Allah) dan Al Firqah An Najiyah (Golongan yang selamat). Dan pada saat
sekarang ini ketika banyak kelompok dalam tubuh umat Islam yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah
dan pengikut Al Kitab dan As Sunnah namun ternyata praktik dan ajarannya jauh menyimpang dari prinsip-
prinsip Salafush Shalih maka bangkitlah para ulama untuk memberikan sebuah istilah pembeda yaitu Salafiyun
(para pengikut Salaf) (lihat Mujmal Ushul Ahlis Sunnah , hal. 6, Limadza hal. 36-38, Minhaaj Al Firqah An
Najiyah, hal. 6-17 dan Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas,
hal. 7-14). Apabila para pembaca ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah munculnya istilah Ahlus
Sunnah wal Jama’ah maka kami sarankan untuk membaca Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya
Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas yang diterbitkan Pustaka At Taqwa hal. 14-17. Di sana beliau sudah
menerangkan hal ini, semoga Allah memberikan balasan sebaik-baiknya kepada beliau. Dan bagi para pembaca
yang ingin membaca keterangan yang menjelaskan bahwa Al Firqatun Najiyah adalah Ath Tha’ifah Al
Manshurah juga sama dengan Ahlul Hadits maka silakan baca buku Mereka Adalah Teroris cet. I hal. 77-95.
Semoga Allah merahmati para ustadz kita dan menyatukan mereka dalam barisan dakwah Salafiyah dalam
membumihanguskan gerombolan dakwah Ahlul bid’ah, …Aammiin.
Hanya Satu yang Selamat!
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitakan
tentang terjadinya perpecahan umatnya sesudah beliau wafat. Kami sangat mengharapkan keterangan dari
yang mulia tentang hal itu? Beliau menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan dalam
hadits-hadits yang sah (riwayat Abu Dawud di Kitab As Sunnah bab Syarhu Sunnah (4596), At Tirmidzi di
Kitabul Iman bab Iftiraqu Hadzihihil Ummah (2642), Ibnu Majah di Kitabul Fitan bab Iftiraqul Ummah (3991)).
Hadits-hadits itu menceritakan bahwa kaum Yahudi berpecah belah menjadi 71 kelompok/ firqah. Sedangkan
kaum Nashara berpecah menjadi 72 firqah. Dan umat ini akan berpecah menjadi 73 firqah . Seluruh firqah ini
terancam berada di neraka kecuali satu firqah. Firqah tersebut terdiri dari orang-orang yang berpegang
teguh dengan ajaran dan pemahaman agama sebagaimana yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
beserta para sahabatnya. Kelompok inilah yang disebut dengan Al Firqah An Najiyah (kelompok yang selamat).
Mereka selamat dari kebid’ahan ketika berada di dunia. Dan mereka terselamatkan dari api neraka ketika di
akhirat kelak. Inilah Ath Thaa’ifah Al Manshuurah (kelompok yang diberi pertolongan dan dimenangkan) yang
akan tetap eksis hingga datangnya hari kiamat. Mereka senantiasa menang dan mendapatkan ketegaran dalam
menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla.”
“Tujuh puluh tiga firqah ini, salah satunya berada di atas kebenaran sedangkan selainnya berada di atas
kebatilan. Sebagian ulama berusaha untuk merincinya satu persatu dan menyimpulkannya menjadi lima aliran
utama ahlul bida’ (kaum pembela bid’ah). Dari setiap aliran itu mereka bagi lagi menjadi beberapa sekte
sampai bisa mencapai total bilangan tersebut yang telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Sedangkan ulama yang lainnya memandang bahwa dalam hal ini sikap yang lebih baik ialah menahan diri untuk
tidak merincinya. Mereka beralasan karena bukan hanya firqah-firqah yang sudah ada ini saja yang tersesat.
Tetapi telah banyak kelompok orang yang tersesat dalam jumlah kelompok yang lebih besar di masa
sebelumnya. Begitu pula banyak firqah baru yang muncul setelah tujuh puluh dua firqah yang ada sekarang.
Mereka berpendapat bahwa bilangan ini tidak akan pernah terhenti dan tidak mungkin bisa diketahui sampai
kapan berakhirnya kecuali nanti di akhir zaman ketika hari kiamat datang. Oleh sebab itu sikap yang lebih baik
ialah kita sebutkan secara global saja bilangan yang sudah disebutkan secara global oleh Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam . Dan kita katakan bahwasanya umat ini akan berpecah belah menjadi 73 firqah, semuanya berada di
neraka kecuali satu. Kemudian kita katakan bahwa setiap orang yang menyimpang dari petunjuk dan
pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya adalah termasuk dalam firqah-firqah ini.
Dan bisa juga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan gambaran tentang pokok-pokok aliran sesat yang
belum bisa kita ketahui keberadaannya sekarang ini kecuali hanya sebatas sepuluh aliran saja yang baru bisa
kita lihat. Atau bisa juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan beberapa pokok aliran sesat yang
di dalamnya terkandung cabang-cabang sebagaimana pendapat demikian dipilih oleh sebagian ulama. Adapun
ilmu yang sebenarnya ada di sisi Allah ‘azza wa jalla.” ( Fatawa Arkaanul Islaam , hal. 21-22).
Firqah-Firqah yang Menyimpang
Setelah kita mengetahui bersama bahwasanya satu-satunya jalan yang diridhai Allah dalam beragama adalah
pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; yaitu tegak di atas Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman
salafush shalih. Maka tidak kalah pentingnya sekarang adalah mengetahui berbagai kelompok Islam atau firqah
yang menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di sini kami ingin mengingatkan kembali
perkataan Imam Ibnul Qayyim yang sangat penting untuk kita cermati. Beliau rahimahullah mengatakan,
“Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah
kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih
agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya
agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan
dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai ( al maghdhuubi ‘alaihim ) yaitu orang yang memiliki niat
yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia selamat dari jebakan jalan orang sesat ( adh dhaalliin ) yaitu orang-
orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang
yang diberi nikmat ( an’amta ‘alaihim ) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik.
Mereka itulah pengikut shirathal mustaqim ..” ( I’laamul Muwaqqi’iin , 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf ,
hal. 44) Dari perkataan beliau ini kita bisa menarik kesimpulan berharga bahwasanya sumber penyimpangan
manusia dari jalan yang lurus adalah buruknya pemahaman dan buruknya niat. Inilah dua pokok kesesatan yang
ada, baik di dalam Islam maupun di luar Islam.
Sebagian besar kelompok menyimpang yang ada sekarang ini pada hakikatnya mewarisi penyimpangan-
penyimpangan yang ada pada para pendahulunya, sedikit maupun banyak. Ada di antara mereka yang murni
mengikuti sebuah aliran masa silam tapi ada juga yang menggabung-gabungkan penyimpangan dari berbagai
aliran masa silam ke dalam tubuh kelompok mereka. Dan kebanyakan dari mereka sudah tidak lagi memakai
nama lama. Akan tetapi mereka kelabui umat dengan nama-nama yang indah dan mempesona. Ada lagi orang-
orang yang merasa tidak puas dengan referensi-referensi Islam dan mencoba menggali ‘tambahan pelajaran’
dari produk pemikiran orang-orang Kafir. Di antara mereka ada yang masih berada dalam lingkaran Islam.
Tetapi ada juga yang sudah mental keluar karena bosan dengan manhaj para ulama Salaf dan lebih senang
dengan ajaran Orientalis. Maka jadilah orang-orang seperti ini sebagai orang-orang yang merasa
memperjuangkan keagungan nilai ajaran agama Islam. Berdasarkan persangkaan ini maka mereka pun
mengumpulkan manusia dan menyebarkan ide-ide mereka dalam bentuk ceramah maupun tulisan. Mereka
bangun sekolah demi mengkader para penerus kesesatan mereka. Mereka racuni pikiran para generasi muda
dan kaum cerdik cendekia. Bahkan tidak jarang ada di antara mereka yang nekat turun ke jalan dan
mengerahkan massa. Atau lebih sangar lagi ada yang berani mengangkat senjata dan menumpahkan darah
manusia tanpa hak. Subhaanallaah…!!
Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Setiap golongan yang menamakan dirinya dengan
selain identitas Islam dan Sunnah adalah mubtadi’ (ahli bid’ah) seperti contohnya: Rafidhah (Syi’ah),
Jahmiyah, Khawarij, Qadariyah, Murji’ah, Mu’tazilah, Karramiyah, Kullabiyah, dan juga kelompok-kelompok lain
yang serupa dengan mereka. Inilah firqah-firqah sesat dan kelompok-kelompok bid’ah, semoga Allah
melindungi kita darinya.” ( Lum’atul I’tiqad , dinukil dari Al Is’ad fi Syarhi Lum’atil I’tiqad hal 90. Namun di
sana tidak disebutkan nama Khawarij, dugaan saya ini adalah salah cetak, sebagaimana tampak dari syarahnya
yang juga menjelaskan firqah Khawarij. Silakan bandingkan dengan Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Al
‘Utsaimin, hal. 161). Setelah membawakan perkataan Imam Ibnu Qudamah ini Syaikh Muhammad bin Shalih Al
‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan mengenai sebagian ciri-ciri Ahlul bid’ah. Beliau mengatakan, “Kaum
Ahlul bid’ah itu memiliki beberapa ciri, di antara cirinya adalah:
1. Mereka memiliki karakter selain karakter Islam dan Sunnah sebagai akibat dari bid’ah-bid’ah yang mereka
ciptakan, baik yang menyangkut urusan perkataan, perbuatan maupun keyakinan.
2. Mereka sangat fanatik kepada pendapat-pendapat golongan mereka. Sehingga mereka pun tidak mau kembali
kepada kebenaran meskipun kebenaran itu sudah tampak jelas bagi mereka.
3. Mereka membenci para Imam umat Islam dan para pemimpin agama (ulama) ( Syarah Lum’atul I’tiqad , hal.
161).
Kemudian Syaikh Al ‘Utsaimin menjelaskan satu persatu gambaran firqah sesat tersebut secara singkat.
Berikut ini intisari penjelasan beliau dengan beberapa tambahan dari sumber lain. Mereka itu adalah:
1. Rafidhah (Syi’ah) , yaitu orang-orang yang melampaui batas dalam mengagungkan ahlul bait (keluarga Nabi).
Mereka juga mengkafirkan orang-orang selain golongannya, baik itu dari kalangan para Shahabat maupun
yang lainnya. Ada juga di antara mereka yang menuduh para Shahabat telah menjadi fasik sesudah wafatnya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka ini pun terdiri dari banyak sekte. Di antara mereka ada yang sangat
ekstrim hingga berani mempertuhankan ‘Ali bin Abi Thalib, dan ada pula di antara mereka yang lebih rendah
kesesatannya dibandingkan mereka ini. Tokoh mereka di zaman ini adalah Khomeini beserta begundal-
begundalnya. (Silakan baca Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V/Muharram 1427 hal. 49-53).
2. Jahmiyah . Disebut demikian karena mereka adalah penganut paham Jahm bin Shofwan yang madzhabnya sesat.
Madzhab mereka dalam masalah tauhid adalah menolak sifat-sifat Allah. Sedangkan madzhab mereka dalam
masalah takdir adalah menganut paham Jabriyah. Paham Jabriyah menganggap bahwa manusia adalah makhluk
yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan dalam mengerjakan kebaikan dan keburukan. Adapun dalam masalah
keimanan madzhab mereka adalah menganut paham Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan
pengakuan hati tanpa harus diikuti dengan ucapan dan amalan. Sehingga konsekuensi dari pendapat mereka
ialah pelaku dosa besar adalah seorang mukmin yang sempurna imannya. Wallaahul musta’aan.
3. Khawarij . Mereka ini adalah orang-orang yang memberontak kepada khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu karena alasan pemutusan hukum. Di antara ciri pemahaman mereka ialah membolehkan pemberontakan
kepada penguasa muslim dan mengkafirkan pelaku dosa besar. Mereka ini juga terbagi menjadi bersekte-
sekte lagi. (Tentang Pemberontakan, silakan baca Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V/Muharram 1427 hal.
31-36).
4. Qadariyah. Mereka ini adalah orang-orang yang berpendapat menolak keberadaan takdir. Sehingga mereka
meyakini bahwa hamba memiliki kehendak bebas dan kemampuan berbuat yang terlepas sama sekali dari
kehendak dan kekuasaan Allah. Pelopor yang menampakkan pendapat ini adalah Ma’bad Al Juhani di akhir-
akhir periode kehidupan para Shahabat. Di antara mereka ada yang ekstrim dan ada yang tidak. Namun yang
tidak ekstrim ini menyatakan bahwa terjadinya perbuatan hamba bukan karena kehendak, kekuasaan dan
ciptaan Allah, jadi inipun sama sesatnya.
5. Murji’ah . Menurut mereka amal bukanlah bagian dari iman. Sehingga cukuplah iman itu dengan modal
pengakuan hati saja. Konsekuensi pendapat mereka adalah pelaku dosa besar termasuk orang yang imannya
sempurna. Meskipun dia melakukan kemaksiatan apapun dan meninggalkan ketaatan apapun. Madzhab mereka
ini merupakan kebalikan dari madzhab Khawarij.
6. Mu’tazilah . Mereka adalah para pengikut Washil bin ‘Atha’ yang beri’tizal (menyempal) dari majelis pengajian
Hasan Al Bashri. Dia menyatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar itu di dunia dihukumi sebagai orang
yang berada di antara dua posisi (manzilah baina manzilatain), tidak kafir tapi juga tidak beriman. Akan
tetapi menurutnya di akhirat mereka akhirnya juga akan kekal di dalam Neraka. Tokoh lain yang mengikuti
jejaknya adalah Amr bin ‘Ubaid. Madzhab mereka dalam masalah tauhid Asma’ wa Shifat adalah menolak
( ta’thil ) sebagaimana kelakuan kaum Jahmiyah. Dalam masalah takdir mereka ini menganut paham Qadariyah.
Sedang dalam masalah pelaku dosa besar mereka menganggapnya tidak kafir tapi juga tidak beriman. Dengan
dua prinsip terakhir ini pada hakikatnya mereka bertentangan dengan Jahmiyah. Karena Jahmiyah menganut
paham Jabriyah dan menganggap dosa tidaklah membahayakan keimanan. Inilah anehnya bid’ah, dua prinsip
aliran sesat yang bertentangan bisa bertemu dalam satu tubuh. Tahsabuhum jamii’an wa quluubuhum syattaa .
Kalian lihat mereka itu bersatu padu akan tetapi sebenarnya hati mereka tercerai-berai. (lihat QS. Al Hasyr:
14).
7. Karramiyah . Mereka adalah pengikut Muhammad bin Karram yang cenderung kepada madzhab Tasybih
(penyerupaan sifat Allah dengan makhluk) dan mengikuti pendapat Murji’ah, mereka ini juga terdiri dari
banyak sekte.
8. Kullabiyah . Mereka ini adalah pengikut Abdullah bin Sa’id bin Kullab Al Bashri. Mereka inilah yang
mengeluarkan statemen tentang Tujuh Sifat Allah yang mereka tetapkan dengan akal. Kemudian kaum
Asya’irah (yang mengaku mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy’ari) pada masa ini pun mengikuti jejak langkah
mereka yang sesat itu. Perlu kita ketahui bahwa Imam Abul Hasan Al Asy’ari pada awalnya menganut paham
Mu’tazilah sampai usia sekitar 40 tahun. Kemudian sesudah itu beliau bertaubat darinya dan membongkar
kebatilan madzhab Mu’tazilah. Di tengah perjalanannya kembali kepada manhaj Ahlus Sunnah beliau sempat
memiliki keyakinan semacam ini yang tidak mau mengakui sifat-sifat Allah kecuali tujuh saja yaitu: hidup,
mengetahui, berkuasa, berbicara, berkehendak, mendengar dan melihat. Kemudian akhirnya beliau bertaubat
secara total dan berpegang teguh dengan madzhab Ahlus Sunnah, semoga Allah merahmati beliau. (lihat
Syarh Lum’atul I’tiqad , hal. 161-163).
Syaikh Abdur Razzaq Al Jaza’iri hafizhahullah mengatakan, “Dan firqah-firqah sesat tidak terbatas pada
beberapa firqah yang sudah disebutkan ini saja. Karena ini adalah sebagiannya saja. Di antara firqah sesat
lainnya adalah: Kaum Shufiyah dengan berbagai macam tarekatnya, Kaum Syi’ah dengan sekte-sektenya,
Kaum Mulahidah (atheis) dengan berbagai macam kelompoknya. Dan juga kelompok-kelompok yang gemar ber-
tahazzub (bergolong-golongan) pada masa kini dengan berbagai macam alirannya, seperti contohnya: Jama’ah
Hijrah wa Takfir yang menganut aliran Khawarij; yang dampak negatif ulah mereka telah menyebar kemana-
mana (yaitu dengan maraknya pengeboman dan pemberontakan kepada penguasa, red), Jama’ah Tabligh dari
India yang menganut aliran Sufi, Jama’ah-jama’ah Jihad yang mereka ini termasuk pengusung paham
Khawarij tulen, kelompok Al Jaz’arah , begitu juga (gerakan) Al Ikhwan Al Muslimun baik di tingkat
internasional maupun di kawasan regional (bacalah buku Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin
karya Ustadz Andy Abu Thalib Al Atsary hafizhahullah ). Sebagian di antara mereka (Ikhwanul Muslimin) ada
juga yang tumbuh berkembang menjadi beberapa Jama’ah Takfiri (yang mudah mengkafirkan orang). Dan
kelompok-kelompok sesat selain mereka masih banyak lagi.” (lihat Al Is’aad fii Syarhi Lum’atul I’tiqaad , hal.
91-92, bagi yang ingin menelaah lebih dalam tentang hakikat dan bahaya di balik jama’ah-jama’ah yang ada
silakan membaca buku Jama’ah-Jama’ah Islam karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhahullah).
Haram Berpecah Belah Menjadi Berbagai Jama’ah dan Partai
Berikut ini sebagian fatwa para ulama yang mengecam keras tindakan mendirikan berbagai jama’ah dan
mengkotak-kotakkan umat Islam dalam sekat-sekat partai dan kelompok keagamaan. Komite Tetap urusan
fatwa Kerajaan Saudi Arabia yang diketuai oleh Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya,
“Apakah hukum berbilangnya jama’ah dan hizb/partai di dalam Islam, dan apakah hukum berloyalitas
kepadanya ?” Komite tersebut menjawab: “Tidak diperbolehkan kaum muslimin terpecah belah dalam agama
mereka menjadi berbagai kelompok dan golongan… Karena sesungguhnya perpecahan ini tergolong perkara
yang dilarang Allah kepada kita. Allah mencela orang yang menciptakan dan juga orang yang mengikuti orang
yang mencetuskannya. Dan Allah telah mengancam pelakunya dengan siksaan yang sangat besar. Allah ta’ala
berfirman yang artinya, “Berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah..” (QS.
Ali ‘Imran : 103) sampai firman Allah ta’ala, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah
dan senantiasa berselisih sesudah datang berbagai macam keterangan kepada mereka. Dan bagi mereka itulah
siksaan yang sangat besar.” (QS. Ali ‘Imran: 105). Allah ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang
yang memecah belah agama mereka sehingga mereka pun menjadi bergolong-golongan tidak ada sedikitpun
tanggung jawabmu kepada mereka.” (QS. Al An’am : 159). Adapun apabila pemegang urusan kaum muslimin
(Pemerintah, red) yang melakukan upaya pengaturan terhadap mereka serta memilah-milah mereka dalam
berbagai kegiatan agama atau keduniaan (bukan untuk memecah belah, red) maka tindakan semacam ini
disyari’atkan.” (Fatwa No. 1674 tertanggal 7/10/1397 H, lihat Silsilah Abhats Manhajiyah Salafiyah, hal.
52-53).
Nasihat serupa juga disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah . Beliau
mengatakan, “Tidak terdapat dalil baik di dalam Al Kitab maupun di dalam As Sunnah yang membolehkan
munculnya berbagai macam jama’ah dan hizb /partai. Akan tetapi yang ada di dalam Al Kitab dan As Sunnah
justru mencela hal itu. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu)
menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga
dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (QS. Al Mu’minuun: 53). Dan tidak ragu lagi
bahwasanya keberadaan hizb-hizb ini bertentangan dengan perintah Allah, bahkan ia juga bertolak belakang
dengan anjuran yang disinggung di dalam firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama
kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiyaa’: 92)” (lihat
Silsilah Abhats Manhajiyah Salafiyah , hal. 54).
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah yang dulunya pernah membolehkan orang untuk khuruj (keluar daerah
untuk berdakwah ala Tablighi dalam rentang waktu tertentu) bersama Jama’ah Tabligh pun dalam fatwa
terakhirnya mengatakan, “Jama’ah Tabligh tidak memiliki bashirah (ilmu dan keterangan) dalam berbagai
permasalahan akidah, sehingga tidak diperbolehkan untuk khuruj bersama mereka, kecuali bagi orang yang
sudah mempunyai bekal ilmu dan bashirah (pemahaman yang dalam) dalam hal akidah lurus yang dipegang oleh
Ahlus Sunnah wal Jama’ah supaya dia bisa mengarahkan dan menasihati mereka.” (Majalah Ad Da’wah, Riyadh
No. 1438 tertanggal 13/1/1414 H dan tercantum dalam Majmu’ Fatawa beliau 8/331, dinukil dengan sedikit
perubahan dari Silsilah Abhats Manhajiyah Salafiyah, hal. 55-56). Dalam permasalahan ini para ulama lainnya
juga memberikan fatwa yang melarang terbentuknya berbagai jama’ah dan hizb semacam ini, di antara
mereka adalah Syaikh Shalih Al Fauzan (anggota Lembaga Ulama Besar kerajaan Saudi Arabia), Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al Albani ( mujaddid dan ahli hadits abad ini), Syaikh Bakr Abu Zaid dan ulama-ulama
yang lainnya dari negeri Saudi, Yaman, Yordan, dan negeri lain, semoga Allah menjaga mereka semua.
Maka pada masa ini di negeri yang kita tempati, kita sungguh dibuat terheran-heran oleh ulah sebagian
kelompok umat Islam yang menyerukan persatuan dan mengajak untuk mempererat jalinan ukhuwah di antara
sesama muslim namun di saat yang sama mereka justru asyik mendengung-dengungkan kehebatan partainya
sembari mengibar-ngibarkan bendera partainya, mengenakan kaos dan beraneka atribut partai,
merentangkan spanduk kebanggaannya serta memobilisasi massa untuk mencoblos partai mereka dan tidak
memilih partai Islam yang lainnya. Inilah salah satu keajaiban Harakah Islamiyah (Gerakan Islam) abad 21
yang berusaha ‘menegakkan benang basah’ dan rela untuk merengek-rengek kepada Demokrasi demi
mendapatkan jatah kursi. Wallahul musta’aan . Adakah orang yang mau merenungkan?
Penutup
Di akhir tulisan ini kami ingin menegaskan ulang bahwa Salaf artinya para sahabat Nabi dan orang-orang yang
mengikuti jejak mereka dengan baik,>Salaf bukanlah pabrik atau partai atau organisasi atau yayasan atau
perkumpulan atau perusahaan… jangan salah paham. Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam telah bersabda mensifati
sebuah golongan yang selamat dari perpecahan di dunia dan siksa di akhirat, yang biasa disebut dengan istilah
Al Firqah An Najiyah (golongan yang selamat) atau Ath Thaa’ifah Al Manshuurah (kelompok yang mendapat
pertolongan) atau Al Jama’ah atau Al Ghurabaa’ (orang-orang yang asing), beliau bersabda, “Mereka adalah
orang-orang yang beragama sebagaimana caraku dan cara para sahabatku pada hari ini.” (HR. Ahmad, dinukil
dari Kitab Tauhid Syaikh Shalih Fauzan hal. 11).
Maka sebenarnya pertanyaan yang harus kita tujukan pertama kali kepada diri-diri kita sekarang adalah;
apakah akidah kita, ibadah kita, dakwah kita, garis perjuangan kita sudah selaras dengan petunjuk Rasul dan
para sahabat ataukah belum? Pikirkanlah baik-baik dengan hati dan pikiran yang tenang: Benarkah apa yang
selama ini kita peroleh dari para ustadz dan Murabbi serta Murabbiyat sudah sesuai dengan pemahaman
sahabat ataukah belum? Kalau iya mana buktinya? Marilah kita ikuti jejak dakwah Rasul serta para sahabat
dan juga para ulama Salaf dari zaman ke zaman. Ukurlah keadaan kita dengan timbangan Al Kitab dan As
Sunnah dengan pemahaman Salaf. Ingat, jangan ta’ashshub (fanatik buta). Pelajari dulu akidah dan manhaj
yang benar, baru saudara akan bisa menilai apakah manhaj dan dakwah saudara-saudara sudah cocok dengan
pemahaman sahabat ataukah belum cocok tapi dipaksa-paksa biar kelihatan cocok?! Orang yang bijak
mengatakan: ‘Kenalilah kebenaran maka engkau akan mengenal siapa yang benar!’ Kenapa kita harus ngotot
membela seorang tokoh, beberapa individu, sebuah partai, atau yayasan, atau organisasi, atau pergerakan,
atau perhimpunan, atau kesatuan aksi, atau apapun namanya kalau ternyata itu semua menyimpang dari jalan
Rasul dan para sahabat? Pikirkanlah ini baik-baik sebelum anda bertindak, berorasi, menulis, atau menggalang
massa, sadarilah kita semua telah mendapatkan larangan dari Allah Ta’ala dari atas langit sana dengan
firman-Nya yang artinya, “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu
tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semua itu pasti akan dimintai
pertanggungjawaban.” (QS. Al Israa’ : 36). Peganglah akidah ini kuat-kuat!!
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada
termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya
shallallahu ‘alaihi wa sallam : [katakanlah] kepada manusia [inilah jalanku] artinya: jalan yang kutempuh dan
kuajak kamu untuk menempuhnya. Yaitu suatu jalan yang akan mengantarkan menuju Allah dan negeri
kemuliaan-Nya (surga). Jalan itu mencakup ilmu terhadap kebenaran dan mengamalkannya, menjunjung tinggi
kebenaran serta mengikhlashkan ketaatan beragama hanya untuk Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. [aku
mengajak kamu kepada Allah] artinya: aku memotivasi seluruh makhluk dan hamba-hamba agar menempuh
jalan menuju Tuhan mereka. Aku senantiasa mendorong mereka untuk itu, dan aku memperingatkan mereka
dari bahaya yang dapat menjauhkan dari jalan itu. Bersama itu akupun memiliki [ hujjah yang nyata] dari
ajaran agamaku, (dakwahku) tegak di atas landasan ilmu dan keyakinan, tidak ada keraguan, kebimbangan
dan ketidakpastian. [dan] begitu pula [orang-orang yang mengikutiku], mereka mengajakmu kepada Allah
sebagaimana ajakanku, berdasarkan hujjah yang nyata dari agama-Nya. [dan Maha suci Allah] dari segala
sesuatu yang disandarkan kepada-Nya tapi tidak sesuai bagi kemuliaan-Nya atau mengurangi kesempurnaan-
Nya. [dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik] dalam segala urusanku, tetapi aku menyembah Allah
dengan mengikhlashkan agama untuk-Nya.” ( Taisir Karimir Rahman, hal. 406).
Demikianlah yang dimudahkan bagi kami untuk menyusun tulisan ini. Tulisan ini memang masih jauh dari
kesempurnaan. Yang benar bersumber dari Allah. Sedangkan yang salah berasal dari kami dan dari syaithan,
Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari kesalahan kami. Dan kami memohon ampun kepada Allah atasnya.
Nasihat dan kritik membangun dari para pembaca yang budiman sangat kami harapkan demi tegaknya
kebenaran dan untuk mengharapkan limpahan ridha, rahmat dan barakah dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Semoga Allah menerima amal-amal kita. Shalawat beriring salam semoga selalu tercurah kepada teladan kita
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , keluarga, para sahabat dan seluruh pengikut mereka yang setia.
Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.
Jogjakarta, Jum’at 23 Rabi’ul Awwal 1427 Hijriyah
Catatan:
Mohon kepada ikhwah sekalian untuk menyebarluaskan risalah ini secara utuh tanpa merubah content dan
memenggal tulisan di dalamnya, serta jangan lupa untuk tetap mencantumkan sumbernya (muslim.or.id).
Jazaakumullahu khoiron…
***
Disusun oleh:
Departemen Ilmiah Divisi Bimbingan Masyarakat, Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary Yogyakarta (2006)
Artikel http://www.muslim.or.id

http://muslim.or.id/manhaj/mari-mengenal-manhaj-salaf.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Download Kitab

Untuk mendownload ebook sunnah karangan Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah, silahkan klik link berikut :

http://www.maktabah-attamimi.blogspot.com/p/download-kitab.html?m=1

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Penjelasan 50 Hadits Inti Ajaran Islam

image

Judul Ebook:
Penjelasan 50 Hadits Inti Ajaran Islam

Terjemah Kitab Fat-hul Qawiyyil
Matin fi Syarhil Arba’in wa
Tatimmatul Khamsin

Penulis:
Syaikh ‘Abdul-Muhsin bin Hamd
Al-’Abbad Al-Badr

Penerjemah:
Ustadz Abu Abdillah Arief Budiman,
Lc. (Beliau adalah Pengajar Ma’had
As-Sunnah Cirebon dan alumni
Universitas Islam Madinah)

Silahkan download pada link berikut:

http://www.salafiyunpad.wordpress.com/2012/03/12/download-ebook-terjemah-kitab-fat-hul-qawiyyil-matin-fi-syarhil-arbain-wa-tatimmatul-khamsin-karya-syaikh-abdulmuhsin-al-abbad-al-badr/

Posted in Uncategorized | Leave a comment